Manusia Modern, Kenikmatan Hidup, Gunung

“Manusia modern,” katanya, “sudah terserat arus keseharian. Arus rutin ini membawa banyak sampah yang mendangkalkan hidup, seperti sungai-sungai di kota besar yang semakin dangkal karena sampah dan lumpur bertumpuk-tumpuk. Dunia menggiring kita untuk menikmati hidup.”

“Sebentar,” sergahku, “apa maksudmu kita digiring untuk menikmati hidup. Bukankah kita semua memang ingin menikmati hidup?”

“Benar. Tetapi kita digiring untuk menikmati demi menikmati itu sendiri, bukan demi memahami hakikatnya. Misalnya, iklan mengaburkan pemahaman kita soal keinginan dan kebutuhan. Perhatikan iklan-iklan di televisi. Kebutuhan direkayasa. Keinginan direkayasa menjadi sebuah kebutuhan. Apakah cantik harus selalu berambut lurus dan bebas ketombe? Itu hanya satu contoh. Cari sendiri contoh lainnya.”

Aku mengangguk-angguk. Tetapi aku merasa kali ini Ali begitu sistematis, begitu runtut. Dalam hati aku bertanya-tanya, dari mana dia belajar semua ini?

“Rutinitas menyibukkan kita. Orang resah oleh urusan bisnis, konsumsi, jasa, deadline, macam-macamlah pokoknya. Sebagian besar waktu kita habis untuk hal-hal seperti itu. Dan kita jadi lupa pada diri kita sendiri, maksudku lupa pada identitas diri kita yang sejati. Identitas kita semakin ditentukan oleh hal-hal luar. Lihat saja anak-anak remaja sekarang. Seorang anak akan merasa tidak percaya diri karena, misalnya, handphone-nya ketinggalan zaman. Jika tidak pakai merek A dianggap kuno. Identitas ditentukan oleh mode, oleh iklan, oleh apa saja, yang berada di luar dari diri kita sendiri. Manusia menjadi seperti pengembara yang haus akan produk-produk dan layanan-layanan baru. Kita kehilangan orientasi, dan, menurutku, kita terus-menerus diarahkan untuk kehilangan lebih banyak lagi orientasi dan makna hidup yang paling dasar.”

Semakin abstrak saja penjelasannya. Kali ini aku seperti mendengar kuliah filsafat. Apakah aku akan paham? Entahlah, tetapi aku semakin tertarik.
“Orientasi apa misalnya?” tanyaku.

“Pernah ke mal?” tanyanya.

Nah, nah, mulai berteka-teki.
“Ya, berkali-kali.”

“Di mal, kita seperti dilepaskan dari ruang dan waktu.”

“Bagaimana bisa? Kita kan berada di sebuah ruangan dan mal kan buka mulai pukul sepuluh pagi sampai sembilan atau sepuluh malam?”

“Eh, kamu tak memerhatikan kata-kataku, ya? Aku bilang ‘seperti’. Hei, cobalah jangan berpikir terlalu harfiah!”

Aku nyengir.

Dia melanjutkan, “Di mal jarang ada jam dinding. Lalu, cobalah perhatikan, semua yang ada di mal dibuat selalu baru. Lampu yang menyala terus-menerus, seolah-olah tak ada bedanya antara siang dan malam. Hawa yang sejuk terus-menerus. Pajangan-pajangan dan kaca-kaca yang selalu mengilat seolah tak pernah usang. Secara rutin pajangan atau display barang diganti yang baru, yang cerah. Segala yang usang dan kusam disingkirkan. Waktu seperti tak mengalir di sana. Semua terasa muda dan segar selalu. Orang yang datang sebagian besar berdandan rapi dan wangi, sebab jika kau pakai pakaian lusuh, bisa dipastikan akan malu, merasa tak pantas. Dengan cara ini, kesadaran kita tentang waktu dan ruang akan hilang, dan pelan-pelan identitas diri kita dikikis oleh tuntutan situasi luar. Di dalam mal, kita tak tahu jam berapa, tak bisa membedakan siang dan malam — tentu saja kecuali kita ingat kalau bawa jam tangan. Namun situasi di mal umumnya tak membuat kita ingat akan waktu. Kita terlampau asyik. Kita baru keluar kalau sudah capek atau letih.”

“Iya, aku rasakan itu. Sering aku lupa kalau magrib sudah datang saat aku sekadar jalan-jalan di mal.”

“Mal adalah sebagian kecil dari hal yang bisa membuat kita secara tak sadar kehilangan orientasi hidup yang hakiki. Ada banyak hal lainnya, sebenarnya. Intinya, semuanya menawarkan kesenangan. Kita selalu digiring untuk mendewakan kesenangan hidup. Orang pintar bilang, hedonisme, konsumerisme, atau apalah terserah mau istilah apa. Peradaban modern senantiasa menggoda kita untuk lari dari diri kita sendiri, mengubur kecemasan dan kesedihan kita. Seolah-olah hal-hal yang tidak menyenangkan itu adalah penjahat yang harus dijauhi seluruhnya.”

Makin rumit saja, pikirku.

“Aku pernah membaca salah seorang filsuf dari Jerman. Salah satu tulisannya barangkali mewakili sedikit dari alasan kenapa kita, yang menyukai alam pegunungan, senang dan merasa tak kesepian di gunung-gunung yang sepi namun justru merasa kesepian di kota besar atau mal-mal yang ramai.”

“Apa itu,” tanyaku tak sabar.

“Namanya Heidegger. Kira-kira Heidegger bilang begini: Orang di kota kebanyakan tak mengerti kenapa ada orang-orang yang begitu menyukai gunung-gunung yang sepi, jauh dari gemerlap dan keceriaan. Tetapi, kata Heidegger, sesungguhnya situasi di alam bukanlah kesepian, melainkan keheningan. Orang-orang kota besar mudah merasa kesepian, namun di kota besar orang susah merasakan keheningan. Nah, bukankah kita tak pernah merasa kesepian saat di puncak-puncak gunung? Kita merasakan keheningan yang menenteramkan?”

Ya, aku tahu sekarang. Aku ingat saat berada di puncak Pangrango dulu. Sepi di sana. Tetapi aku tak pernah merasa kesepian. Dan aku ingat saat di kamar kontrakan dan saat di jalan-jalan Jakarta. Begitu ramai, tetapi aku merasa kesepian, dan jemu. Apakah ini alasannya? Aku mulai sedikit paham.

“Kenapa kita selalu rindu puncak-puncak gunung? Meminjam kata Heidegger, karena keheningan memiliki daya yang unik dan asli, yang hakiki. Keheningan tidak mengisolasi kita dari keberadaan diri kita, tetapi mendekatkan eksistensi kita dengan hakikat segala sesuatu. Kita menjadi dekat dengan diri kita sendiri. Di keramaian kota, kita mengasingkan diri kita sendiri.”

“Jadi itulah sebabnya puncak gunung selalu memesona?”

“Ya, salah satunya. Ingat, ada banyak alasan kenapa kita, yang mencintai kemurnian alam, selalu rindu pada keheningan. Tetapi untuk saat ini, cukup alasan ini yang kau ketahui. Alasan lainnya akan kau ketahui nanti seiring dengan perjalanan waktu dan pengalamanmu.”

(Disalin dari buku Tri Wibowo B.S. berjudul Gunung Makrifat Memoar Pencari Tuhan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s