Agama dan Ateis

“Bisa diterangkan dasar pandangan Anda ini?” tanya lawan bicaranya, yang berbaju hitam.

“Orang beragama, yang mengaku percaya kepada Tuhan, selalu mengatakan bahwa agama akan membawa pada keselamatan. Agama adalah jalan menuju surga, kebahagiaan kekal. Tetapi, dalam kenyataannya, mengapa manusia yang membawa agama yang berlainan saling berebut masuk surga? Kadang bahkan dengan mengangkat senjata? Menurut umat Islam, Nabi Muhammad adalah rasul terakhir, pembawa wahyu paripurna, dan sebagian umatnya mengklaim bahwa Islamlah satu-satunya agama yang benar. Namun umat Kristen juga mengklaim bahwa hanya melalui Kristuslah kita bisa selamat. Yahudi juga mengungkapkan klaim yang sama. Buddha mengatakan keselamatan adalah nirvana, bukan yang lain. Para pertapa Hindu lain lagi. Semuanya sama-sama mengaku jalan yang benar. Masalahnya adalah kita umat beragama sering kali merasa paling benar sendiri. Semuanya mengklaim sama-sama menegakkan agama Tuhan. Tetapi dalam rangka menegakkan agama itu, mereka kadang menumpahkan darah. Barangkali, logikanya, kalau misalnya Yesus adalah satu-satunya penyelamat, maka umat lain tak akan selamat. Padahal semua agama mensyaratkan agar umatnya memegang ajaran secara teguh. Ini tentu menimbulkan benturan keras saat satu umat memaksakan ajarannya kepada umat yang lain. Dan celakanya inilah yang sering terjadi. Bahkan dalam satu agama sekalipun terdapat perbedaan yang signifikan. Bukankah kita dengar ada orang beragama saling mengkafirkan hanya karena berbeda tafsir? Saya terkadang agak takut dengan keimanan yang teguh ini. Jika pandangan ini tidak dipahami dengan arif, yang muncul adalah sikap kurang menghargai iman yang lain.”

“Barangkali pendapat Anda ada benarnya, tetapi saya kira Anda hanya melihat dari satu sisi saja.” kata lawan bicaranya.

Si baju putih berujar, “Begini. Saya hanya memaparkan sebagian fakta yang kasat mata. Saya sedih menyaksikan banyak orang menderita karena mempertahankan keyakinan mereka. Rumah dibakar, anak yang mati, ibu yang meratap di samping jenazah suaminya, tangis berkepanjangan… bukanlah tanpa agama dunia bisa jadi lebih baik?”

Dalam hal ini aku merasa argumen si baju putih ini timpang. Tetapi aku mau tahu reaksi lawan bicaranya, sebab si baju hitam itu diam saja, hanya manggut-manggut. Tampaknya dia membiarkan lawan bicaranya menjelaskan seluruh argumennya. Dan si baju putih melanjutkan:
“Memang ada sisi positif agama. Tetapi jika agama dari Tuhan, kenapa agama mengandung sisi gelap pula? Dan bahkan sisi gelap ini sungguh mengerikan? Bukankah agama lantas mirip seperti ideologi bikinan manusia, ada sisi gelapnya? Kalau agama dari Tuhan, logikanya, agama itu mesti sempurna, tanpa cela. Jadi saya meragukan apakah agama memang benar-benar dari Tuhan, atau mungkin sekadar pemikiran orang besar pada masa lampau? Atau jangan-jangan Marx benar. Yah, barangkali pendapat saya ini keliru, tetapi mungkin juga tidak. Tetapi secara pribadi saya lebih menyukai ateisme, sebab saya bisa menafsirkan, memberi pendapat secara bebas. Agama cenderung otoriter, apalagi kalau sudah melembaga. Gereja Katolik membunuh Galileo hanya karena pendapat yang berbeda, meski ternyata pendapat Galileolah yang benar. Taliban membawa masyarakatnya menjadi stagnan. Saya pikir Sartre benar kala ia mengatakan kalaupun Tuhan itu ada, kita mesti menolaknya sebab Tuhan itu menghalangi kemerdekaan.”

Kali ini si baju hitam gantian berbicara. “Agama itu benar. Manusianyalah yang salah dalam menafsirkan dan menjalankan ajarannya. Agama diperalat untuk kepentingan pribadi mereka, kepentingan duniawi. Kita tak bisa menyalahkan agama hanya karena ada yang memahaminya secara salah. Agama itu benar, manusianyalah yang keliru. Kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan sering kali memanfaatkan agama untuk tujuan mereka. Harap diingat bahwa penyebab pertikaian bukanlah agama saja. Ada banyak faktor lain yang lebih berperan secara mendasar.”

“Mengapa repot sekali beragama,” sergah si baju putih. “Kenapa Tuhan menurunkan agama yang mudah disalahtafsirkan dan disalahgunakan? Kenapa tidak diturunkan agama yang satu dan jelas saja, agar tak jadi penyimpangan?”

Si baju hitam mengernyitkan dahinya. Dengan nada sedikit keras dia bertanya, “Apakah ini sebentuk penghujatan kepada Tuhan? Saya kira Anda hanya melihat dari satu sisi saja, dari permukaan semata. Jika Anda memasuki iman, Anda akan memahami Tuhan.”

Si baju putih menjawab, “Saya agak kurang percaya pada klaim tokoh agama tertentu yang mengakui mengenal dan memahami Tuhan. Menurut hemat saya, klaim itu tak masuk diakal. Orang selalu bilang Tuhan Maha Tak Terbatas dan Maha Sempurna, lantas bagaimana mungkin manusia, yang dikatakan terbatas dan tak sempurna, mengaku-aku bisa memahami sesuatu yang tak terbatas? Menurut saya, mereka itu hanya menafsirkan saja, menafsirkan sesuatu yang bahkan mereka tak mampu memahaminya. Kalau memang Tuhan bisa dipahami dan dikenal, berarti Tuhan tak lagi Maha Tak Terbatas karena dengan demikian Tuhan berada dalam batas kekuasaan pengetahuan manusia. Bukankah pengetahuan adalah kekuasaan? Jadi mereka mengabsolutkan penafsiran mereka tentang Tuhan Yang Maha Tak terbatas — seperti ini lho Tuhanku, begitu kira-kira kata mereka. Menurutku, ini sama artinya dengan penyembahan berhala. Berhala yang mereka sembah adalah pikiran mereka sendiri dengan mengabsolutkan penafsiran mereka sendiri. Jika semua umat agama yang berbeda bersikukuh dengan tafsirannya masing-masing, bukankah konsep Tuhan itu malah jadi masalah? Bayangkan, jika kita membebaskan diri dari konsep tentang Tuhan, maka kita tak mungkin merasa benar sendiri. Sebab tanpa Tuhan, atau konsep Tuhan sekalipun, kita masih bisa hidup secara manusiawi, saling menghormati dan menyayangi. Menolak konsep Tuhan, atau lebih tegasnya, tidak mengakui Tuhan, memungkinkan kita menaruh semua perhatian dan cinta kita pada manusia. Bukankah ini lebih baik ketimbang membenci dan mendendam dengan dalih membela Tuhan?”

Hadirin mulai ribut. Beberapa orang berteriak tak puas, ada yang sekadar bergumam, ada yang mengepalkan tangannya. Pemimpin diskusi berusaha menenangkan. “Tenang, saudara-saudara. Ini diskusi akademik, jadi mohon jangan ada kekerasan. Jagalah keintelektualan kita. Diskusi belum selesai, dan Anda masih bisa menanggapinya secara bebas pada sesi besok pagi.”

Setelah tenang, pemimpin diskusi berkata, “Silahkan dilanjut. Dan saya harap hadirin tenang. Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin. Setuju?”

Tak semua hadirin berkata setuju. Sebagian tetap diam dengan tatapan mata nyalang kepada si baju putih.

Kali ini si baju hitam angkat bicara. “Sebelum saya menanggapi, tolong konfirmasi pertanyaan saya. Benarkah Anda, berdasarkan argumen ini, Anda menolak mengakui Tuhan?”

Si baju putih mengangguk pelan, sambil melirik ke sebagian hadirin. Tampaknya dia sedikit takut juga karena melawan arus.

“Baiklah,” kata si baju hitam. “Kita sedikit menyimpang dengan berbicara tentang Tuhan, tanpa mengaitkannya dengan agama apa pun. Anda setuju?”

Si baju putih mengangguk lagi.

“Sekarang saya ingin bertanya: tanpa Tuhan, adakah makna bagi kebenaran, kebaikan, etika, moral, cinta? Misalnya, Anda mendambakan kebenaran dan ketentraman, kasih sayang dan tindakan yang manusiawi. Itu bagus. Tetapi apa makna kebenaran di luar agama? Apa makna kebenaran tanpa keikutsertaan Tuhan? Apa yang dimaksud kebenaran, dan siapa yang menentukan bahwa sesuatu itu benar, bahwa sesuatu itu salah? Adakah patokan universalnya?”

Sebagian hadirin bertepuk tangan. Sepanjang yang bisa kulihat, kebanyakan hadirin tampaknya berpihak pada si baju hitam. Si baju hitam melanjutkan:
“Kita ikuti saja asumsi Anda. Mari kita anggap Tuhan tidak ada. Sekarang apakah Anda yakin bahwa apa yang Anda anggap benar itu juga selalu dianggap benar oleh orang lain? Atau, apakah apa yang Anda anggap etis itu selalu dianggap etis oleh orang lain? Apa patokan universalnya?”

Si baju putih menjawab, “Saya tak percaya pada kebenaran yang absolut. Kebenaran itu relatif. Tindakan yang benar itu tak bisa dinilai hanya dari konsepsi abstrak. Ia harus dikaitkan dengan konteks, ruang, dan waktu. Maksud saya begini. Misalnya berbohong itu keliru, tapi suatu saat kebohongan bisa dibenarkan demi menyelamatkan nyawa orang. Dalam kasus ini kebohongan adalah tindakan yang benar.”

Si baju hitam bertanya lagi, “Nah, sekarang, bagaimana kalau orang yang tak bertuhan menganggap dirinya paling benar? Anda selalu bilang bahwa orang beragama, orang yang bertuhan, sering mengklaim dirinya yang paling benar: sekarang saya balik. Ada orang ateis mempunyai pandangan tertentu tentang apa-apa yang dianggapnya benar. Lalu dia memaksakannya. Seperti kasus di Soviet dan Cina. Nah, bukankah dalam hal ini ia tak ada bedanya dengan orang yang bertuhan yang merasa benar sendiri?”

Si baju putih kali ini hanya manggut-manggut. Kemudian si baju hitam melanjutkan:
“Nah sekarang, seandainya tak ada Tuhan, patokan apa yang mesti dipakai untuk mempertemukan kebenaran pandangan manusia yang berbeda-beda itu? Misalnya, si B menganggap X itu benar, lalu si C menganggap Y yang benar. Masing-masing punya argumen dan tak mau mengalah…”

“Harus ada dialog,” potong si baju putih. “Kebenaran adalah sementara, relatif. Semuanya tak pasti. Yang ada hanyalah kemungkinan. Dengan dialog akan muncul pandangan baru. Ada tesis dan antitesis, lalu sintesis yang sama-sama diakui kebenarannya oleh kedua pihak.”

“Bagaimana kalau misalnya muncul pihak lain yang kemudian tak setuju dengan sintesis itu?”

“Sintesis itu harus didialogkan lagi. Dengan demikian sintesis menjadi tesis baru yang akan didialogkan dengan antitesisnya. Itulah arti penting dialog yang bebas. Jika Tuhan tak ada, kita akan bebas mendialogkan apa pun karena konsep dosa tak hadir di sini. Tanpa Tuhan kita merdeka…”

Hadirin ribut lagi. Beberapa orang memaki-maki dengan pelan. Ada yang menghentakkan kakinya. Tetapi ada juga yang diam serius mencatat.

“Baik, lantas sampai kapan kita akan terus-menerus berdebat tentang apa yang kita anggap benar? Anda mengasumsikan hanya ada kemungkinan, ketidakpastian. Tetapi, jika demikian, bukankah ketidakpastian itu sendiri menjadi sebuah kepastian — yakin bahwa ketidakpastian itulah yang pasti, yang niscaya. Kebenaran lalu menjad tak bermakna sebab landasan epistemologisnya rapuh. Itu artinya kita berada di bibir jurang anarki. Bandingkan dengan orang yang bertuhan. Mereka punya semacam “pedoman” yakni Tuhan sebagai sumber kebenaran. Anda merasa sedih melihat orang bertikai, berperang. Dari mana datangnya rasa sedih itu? Anda marah melihat ketidakadilan. Dari mana datangnya rasa amarah itu? Dari dialogkah? Dari pemikiranakah? Atau dari hati? Kalau itu datang dari pikiran, dari mana pikiran mendapatkan ide bahwa tindakan brutal itu keliru? Kalau itu dari pikiran, kenapa hati ikut geram? Kalau itu datang dari hati, dari mana hati mendapatkan perasaan bahwa penindasan dan pemerkosaan, pembunuhan, adalah hal yang tak benar? Kita sering mendengar hati nurani. Tetapi, apakah nurani itu? Hasil dialog dari pemikirankah? Hasil dari pemikiran rasionalkah? Menurut saya, kita tak akan pernah sampai pada kebenaran hanya dengan mengandalkan pikiran saja. Tanpa Tuhan dan hanya mengandalkan rasio itu tak cukup, sebab bahkan hati dan pikiran itu sendiri masih bisa diperdebatkan dari segi fungsinya dalam memahami realitas. Jika tak ada kebenaran hakiki, hanya ada kebenaran relatif, kita sama saja mengelak dari kebenaran. Kalau tak ada kebenaran hakiki, maka tak ada alasan untuk mengatakan bahwa perang lebih jahat ketimbang perdamaian.”

Aku mulai merasakan aroma filsafat yang kental. Sungguh rumit dan berbelit-belit, sangat abstrak. Akan ke manakah perdebatan ini? Aku merasa ada sesuatu yang tak memuaskan dalam diskusi intelektual ini. Tapi apa?

Si baju putih ganti berkata, “Tetapi bagaimana kita bisa bicara soal Tuhan sebagai kebenaran absolut? Jadi, saya akan ikuti asumsi bahwa Tuhan itu ada, Tuhan Maha Mutlak yang berada di luar jangkauan akal dan diskursus intelektual, di luar batas pengetahuan manusia. Nah, jika Tuhan Maha Tak Terbatas, tentunya Tuhan meliputi segala sesuatu, mengantisipasi segala hal namun pada saat yang sama Diri-Nya berada di luar jangkauan dan bebas dari persepsi, imajinasi, pengetahuan, dan pemahaman. Kalau begitu, logikanya, bukankah absurd jika kita membicarakan Tuhan?”

“Anda lupa bahwa Tuhan punya sarana untuk mengungkapkan Diri-Nya — Kitab suci.”

“Menurutku, itu justru tambah tak masuk akal. Bagaimana mungkin ketakterbatasan diwadahi dalam kata-kata? Bukankah kata-kata itu hasil kesepakatan manusia, yang sifatnya terbatas? Katanya Tuhan diluar jangkauan pikiran, jadi jelas tak mungkin ada kesepakatan tentang Tuhan bukan? Yang ada hanyalah, seperti yang sudah saya katakan, tafsir dan opini kita tentang Dia. Bagaimana caranya kata-kata hasil kesepakatan dipakai untuk menjelaskan sesuatu yang tak mungkin kita sepakati karena Dia Maha Tak Terbatas?”

Baju hitam berkata, “Kitab suci menjelaskan bahwa pemahaman langsung tentang Dia tak bisa diakses oleh manusia sebab Dia melampaui segala yang terbatas. Jadi diskusi ketuhanan terpaksa dilakukan dalam batas-batas yang dapat dipikirkan manusia. Nah, sebelum saya lanjutkan, saya ingin bertanya, apakah Anda suka, atau setidaknya pernah membaca puisi?”

“Ya, tapi apa hubungannya dengan diskusi kita ini?”

“Sebentar, saya ingin bertanya lagi. Setelah Anda membaca puisi, apakah Anda tahu maksud sesungguhnya dari yang hendak disampaikan si penyair?”

Si baju putih manggut-manggut saja. Kali ini hadirin mulai saling berbicara sendiri. Seperti ada tawon beterbangan di ruangan ini. Pemimpin diskusi terpaksa meminta para hadirin tenang.

“Penyair menyampaikan pengalaman dan penghayatan mereka lewat puisi. Mengapa? Sebab penghayatan dan pengalaman hidup manusia sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi penyair selalu ingin berbagi pengalaman dan penghayatan hidup yang dialaminya. Orang yang jatuh cinta cenderung ingin berbagi kebahagiannya; tapi bagaimana caranya? Bagaimana mengungkapkan perasaan cinta dan bahagia yang tak terlukiskan itu? Puisi adalah salah satu cara, meski bukan satu-satunya. Kata-kata dipilih bukan untuk arti harfiahnya, tetapi sebagai simbol, metafora. Nah ini berlaku untuk menjelaskan Tuhan, yang tak terlukiskan itu. Dalam kitab suci selalu ada metafora, kiasan, ibarat.”

“Aku mengerti, tetapi itu tetap saja tak membuktikan adanya Tuhan, bukan?”

“Hmm, apakah puisi cinta yang syarat metafora itu tak membuktikan adanya perasaan cinta dari si penulis?”

Si baju putih mengangguk sedikit, meski terpancar rasa tak puas di wajahnya. Si baju hitam melanjutkan:
“Baiklah, kita ambil sudut pandang lain. Anda mengatakan tanpa Tuhan kita merdeka, bebas, dan seolah-olah dengan kebebasan itu kita bisa memecahkan dan memahami semua persoalan. Tetapi Anda juga tahu bahwa ada hal yang tak bisa kita pahami tapi bisa kita rasakan, seperti cinta. Di manakah tempatnya rasa cinta? Seperti apa rasanya? Kita hanya bisa menjelaskannya dengan isyarat atau metafora, seperti frase “hatiku berbunga-bunga karena cinta.” Sesuatu yang tak bisa dibuktikan secara rasional atau empiris bukan berarti itu tak ada. Cinta memang bisa dilihat gejalanya, tetapi itu tak bisa dipahami secara rasional atau empiris, kecuali kita mengalaminya sendiri. Demikian pula Tuhan — ia mirip dengan cinta, dan sesungguhnya Tuhan itu sendiri juga cinta.”

Si baju putih tersenyum sinis, dan berkata, “Baik tapi meyakini adanya Tuhan atau menolak adanya Tuhan tetap tak menjamin tidak ada pertikaian. Jadi sia-sialah menyangkal Tuhan. Tapi apakah menerima Tuhan juga tak sia-sia?”

Hadirin kembali ramai. Aku mulai pening dengan perdebatan ini. Jelas sudut pandang mereka berbeda, dan sulit dipertemukan. Diskusi ini bisa berlarut-larut. Padahal ini belum menyentuh masalah ketuhanan lain yang lebih kompleks, seperti pengalaman spiritual, kerohanian, psikologi agama, hubungan Tuhan-manusia-alam, dan seterusnya. Aku mulai berpikir, apa gunanya diskusi-diskusi semacam ini. Apa demi latihan dan demi kepuasan intelektual? Meski aku merasa diskusi ini menarik dan ada gunanya, tetapi tetap saja ada yang kurang. Entah apa itu…

(Diambil dari buku Tri Wibowo B.S. berjudul Gunung Makrifat Memoar Pencari Tuhan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s