Seperti Sungai Yang Mengalir – Paulo Coelho

Mevlana Jalaluddin Rumi (abad ketiga belas)
Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Kita akan bersua di sana.
297

Dhammapada (kepada sang Buddha)
Daripada seribu ucapan tak berguna, lebih baik sepatah kalimat bermanfaat, yang memberikan kedamaian bagi pendengarnya.
Daripada seribu bait syair yang tak berguna, lebih baik sebait syair bermanfaat, yang memberikan kedamaian bagi pendengarnya.
Daripada melafalkan ratusan bait syair yang tak berarti, hendaknya orang melafal sebait syair, yang memberikan kedamaian bagi pendengarnya.
297

William Blake berkata, “Apa yang sekarang telah terbukti, dulunya hanyalah imajinasi.”
190

Sayang sekali orang-orang hanya melihat perbedaan-perbedaan yang memisahkan mereka. Seandainya kita memandang dengan rasa kasih yang lebih besar, kita akan lebih banyak melihat kesamaan-kesamaan di antara kita, dan sebagian dari masalah-masalah di dunia ini akan terselesaikan.
277

Ksatria cahaya sering mengalami kejadian-kejadian yang berulang. Kerap kali dia dihadapkan pada masalah-masalah dan situasi-situasi yang sama, dan ketika melihat situasi-situasi sulit ini datang kembali, dia menjadi tertekan, dia mengira dirinya tidak mampu mencapai kemajuan apa pun dalam hidupnya.
“Aku sudah pernah mengalami semua ini,” dia berkata kepada hatinya.
“Ya, kau sudah pernah mengalaminya,” hatinya menjawab. “Tetapi kau belum berhasil mengatasinya.”
Maka sang ksatria cahaya pun menyadari berulang kali ini hanya punya satu tujuan: untuk mengajarkan sesuatu yang belum dipahaminya. Dia selalu menemukan solusi yang berbeda untuk setiap pertempuran yang berulang, dan kegagalan-kegagalan itu tidak dianggapnya sebagai kekeliruan, melainkan sebagai batu-batu loncatan sepanjang jalan yang akan membawanya berhadap-hadapan dengan dirinya sendiri.
260

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah
untuk memalukan orang-orang yang berhikmat,” kata Rasul Paulus.
260

Jalanan tercipta karena ada hasrat untuk berjalan; akan tetapi, ada rasa takut yang amat sangat sewaktu kita memulai perjalanan untuk meraih impian kita, seolah-olah kita mesti menyiapkan segala sesuatunya dengan bnar terlebih dahulu. Tetapi bukankah kita semua menjalani kehidupan yang berbeda-beda? Lalu siapa yang memutuskan arti dari “menyiapkan segala sesuatu dengan benar”? Kalau Tuhan menciptakan jerapah, gajah, dan semut, dan kita berusaha menjalani hidup ini sesuai dengan gambaran-Nya, mengapa kita mesti mengikuti contoh lainnya? Berpedoman pada contoh kadang-kadang bisa membantu supaya kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan bodoh yang pernah dilakukan orang-orang lain; tetapi, lebih seringnya hal itu menjadi penjara yang membuat kita mengulangi apa yang sejak dulu sudah pernah dilakukan orang-orang lain.
Ibaratnya kita memastikan supaya dasi kita selalu serasi dengan kaus kaki kita. Atau pendapat-pendapat kita besok, mesti selalu sama dengan pendapat-pendapat kita hari ini. Lalu apa jadinya dengan dunia yang selalu berubah-ubah ini?
Selama tidak merugikan siapapun, bolehlah Anda berubah-ubah pendapat sesekali, dan tidak usah merasa malu karenanya. Anda berhak untuk itu. Jangan pedulikan apa kata orang, sebab mereka toh selalu punya pendapat.
258

Pablo Picasso berkata, “Tuhan juga seorang seniman. Dia menciptakan jerapah, gajah, dan semut. Dia tidak pernah mencoba mengikuti suatu gaya tertentu. Dia sekadar menuruti dorongan hatinya.”
258

Seorang kurir dikirim untuk suatu misi penting ke kota yang jauh. Dia memasang pelana pada kudanya dan langsung berangkat. Setelah melewati beberapa tempat penginapan, di mana binatang-binatang seperti dirinya biasanya diberi makan, kuda itu berpikir, “Kami tidak berhenti untuk makan di kandang mana pun; itu berarti aku tidak diperlakukan sebagai kuda, melainkan seperti manusia. Seperti orang-orang lainnya, aku akan makan begitu kami sampai di kota besar berikutnya.”
Tetapi satu persatu kota-kota besar itu dilewati begitu saja dan penunggangnya tetap memacunya. Kuda itu mulai berpikir, “Barangkali aku bukan diperlakukan sebagai manusia, melainkan sebagai malaikat, sebab malaikat tidak butuh makan.”
Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dan kuda itu dibawa ke kandang; di sana, dengan rakus dia melahap jerami yang ditemukannya.
“Kenapa aku mau saja percaya bahwa semuanya telah berubah, hanya karena kejadiannya tidak seperti yang diharapkan?” kuda itu berkata pada dirinya sendiri. “Aku bukan manusia ataupun malaikat. Aku hanyalah seekor kuda yang kelaparan.”
256-257

Sudah menjadi sifat manusia untuk selalu menilai orang-orang lain dengan sangat keras, tetapi kalau kita sendiri yang dinilai, ada-ada saja alasan kita untuk kekeliruan-kekeliruan yang kita buat, atau kita menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan tersebut.
256

Ada sebuah doa indah yang ditulis oleh ahli Sufi Mesir, Dhu ‘I-Nun (d. ad 86I):

O Tuhan, saat kudengar suara binatang-binatang, bunyi-bunyian di pepohonan, gemericik air, nyanyian burung-burung, dan deru angin atau gemuruh halilintar, kulihat bukti keesaan-Mu di dalam semuanya itu; bisa kurasakan bahwa Engkaulah yang maha kuasa, maha tahu, maha bijak, dan maha adil.
O Tuhan, aku juga mengenalimu dalam kesulitan-kesulitan yang tengah kuhadapi saat ini. Tuhan, hendaknya kepuasan-Mu menjadi kepuasanku, dan biarlah aku menjadi sukacita-Mu, sukacita seorang Ayah kepada anaknya. Dan biarlah aku senantiasa mengingat-Mu dengan rasa tenang dan penuh ketetapan hati, walau pada saat-saat aku kesulitan untuk mengatakan: Aku mengasihi-Mu.
244-245

Ada sebuah cerita tentang kejadian setelah pengeboman di Dresden. Seorang lelaki berjalan melewati sebentangan tanah yang penuh puing-puing, dan dilihatnya tiga orang pekerja.
“Kalian sedang apa?” tanyanya.
Pekerja pertama menoleh dan berkata, “Apa kau tidak lihat? Aku sedang memindahkan batu-batu ini.”
“Apa kau tidak lihat? Aku sedang mencari upah!” kata pekerja yang kedua.
“Apa kau tidak lihat?” Kata pekerja ketiga. “Aku sedang membangun lagi katedralnya.”
Meskipun ketiga pekerja itu melakukan tugas yang sama, hanya satu orang yang tahu pasti makna hidupnya dan pekerjaannya.
239

Yang pertama mesti dilakukan ketika dihadapkan pada penderitaan dan perasaan gamang adalah menerima semua itu apa adanya. Janganlah kita bersikap seolah-olah perasaan-perasaan itu tidak berkaitan dengan kita, atau kita ubah menjadi hukuman demi memuaskan rasa bersalah yang senantiasa bercokol di hati.
237

Sebab hal-hal yang paling hakiki, dan yang membentuk eksistensi kita, justru itu tidak pernah menampakkaan wajah mereka.
235

Kalau secangkir teh yang sederhana bisa lebih mendekatkan kita kepada Tuhan, maka hendaknya kita senantiasa awas terhadap belasan kesempatan lain yang ditawarkan kepada kita oleh setiap hari yang biasa-biasa saja.
212

Kita mengerahkan segala daya dan upaya untuk meraih kesempurnaan, melalui tindakan-tindakan tak sempurna kita dalam kehidupan sehari-hari.
212

Kebahagiaan satu orang belum tentu berarti ketidakbahagiaan orang-orang lainnya.
208

Dia sudah terbiasa dengan penderitaan, dan tak bisa melihatnya dari sudut yang berbeda.
200

“Kalian mungkin sudah mendengar bahwa konon Bapa John tak punya godaan lagi untuk ditaklukkan,” ujarnya. “Tetapi tanpa perjuangan, jiwa kita menjadi lemah. Marilah kita minta kepada Tuhan supaya mengirimkan godaan besar kepada Bapa John, dan kalau dia berhasil menaklukkannya, marilah kita minta kepada Tuhan untuk mengirimkan godaan lainnya, dan lainnya lagi. Dan kalau dia sudah kembali berjuang melawan godaan-godaan itu, marilah kita doakan supaya dia tidak pernah berkata, “Ya Tuhan, tolong usir iblis ini dariku.” Marilah kita doakan supaya dia berkata, “Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk menghadapi iblis ini.”
161-162

Sering kali yang kita sebut “pengalaman” sesungguhnya hanyalah kekalahan-kekalahan yang pernah kita alami. Dengan demikian, kita memandang ke depan dengan perasaan takut orang yang telah membuat banyak kesalahan dalam hidupnya, dan kita tak punya cukup keberanian untuk mengambil langkah berikutnya.
159

Semua yang dilakukan di masa kini akan membawa konsekuensi di masa depan dan menjadi penebusan atas masa lalu.
157

Semua agama membawa kita kepada Tuhan yang sama, dan semuanya patut mendapatkan rasa hormat yang sama.
Barang siapa memilih agama tertentu, berarti telah memilih suatu cara menyembah dan berbagi misteri-misteri secara kolektif. Namun demikian, dia sendirilah yang bertanggung jawab atas segala sepak terjangnya, dan dia tidak berhak mengalihkan tanggung jawabnya atas keputusan-keputusan pribadi apa pun yang dibuatnya, kepada agama yang dianutnya.
157

Kita hendaknya mengasihi musuh-musuh kita, tetapi janganlah kita bersekutu dengan mereka. Mereka ditempatkan di jalan kita untuk menguji pedang kita, dan untuk menghormati mereka, kita mesti bertarung melawan mereka.
Kita mesti memilih musuh-musuh kita.
156-157

Setiap manusia berhak untuk mencari kebahagiaan dan yang dimaksud dengan “kebahagiaan” adalah sesuatu yang menyenangkan hati orang tersebut, bukannya menyenangkan hati orang-orang lain.
156

Setiap manusia diberi satu hak istimewa: kemampuan untuk memilih. Barang siapa tidak menggunakan hak istimewa ini, mengubahnya menjadi kutukan, dan orang-orang lainlah yang akan memilihkan bagi mereka.
155

Kita semua berbeda-beda, dan hendaknya berusaha untuk tetap demikian.
155

Kadang-kadang dunia ini meminta kita berjuang bagi hal-hal yang tidak kita pahami, yang arti pentingnya tidak akan pernah kita ketahui.
154

Seorang Rabi mengumpulkan murid-muridnya dan bertanya kepada mereka:
“Bagaimana kita tahu, kapan persisnya malam hari berakhir dan terang hari dimulai?”
“Kalau sudah cukup terang untuk membedakan domba dari anjing,” sahut salah seorang murid.
Murid lainnya berkata, “Tidak, kalau sudah cukup terang untuk membedakan pohon zaitun dan pohon kurma.”
“Tidak, itu juga bukan definisi yang bagus.”
“Nah, kalau begitu, apa jawaban yang benar?” tanya murid-murid tersebut.
Dan Rabi itu berkata,
“Kalau seorang asing menghampirimu dan kau menganggap dia saudaramu, dan semua perselisihan lenyap, saat itulah malam berakhir dan terang hari dimulai.”
110

Hafez, waktu dia berkata:
Tujuh ribu tahun penuh sukacita pun tak kan bisa membenarkan tujuh hari penindasan.
91

Rumi, pernah berkata: hidup ini ibarat diutus oleh raja untuk menunaikan tugas di negeri seberang. Meski banyak yang berhasil dituntaskannya di negeri itu, semuanya sia-sia bila sang utusan gagal menunaikan tugas yang diembannya.
91

Tetapi hidup ini jadi menarik justru karena tantangan-tantangannya.
89

Kami sudah mengobrol selama hampir lima menit, padahal kami tidak saling memahami bahasa satu sama lain. Kami saling menyampaikan maksud melalui gerakan-gerakan tangan, senyuman, ekspresi wajah, serta hasrat untuk saling berbagi.
Hasrat sederhana untuk berbagi inilah yang telah menuntun kami memasuki dunia komunikasi tanpa kata-kata, di mana segala sesuatunya senantiasa jelas, dan tidak ada kemungkinan disalahartikan.
88

Saya sekedar meyakini bahwa sebuah buku mempunyai perjalanannya sendiri, dan tidak seharusnya dikurung dalam sebuah rak.
83

Saya heran kenapa manusia begitu terobsesi membuat peraturan untuk segala hal.
79

Dia berkomunikasi dengan Tuhan melalui karyanya dan itulah yang paling penting.
74

“Simon Peres di World Economic Forum di Davos: “Si optimis dan si pesimis sama-sama mati pada akhirnya, tetapi masing-masing menjalani hidupnya dalam cara yang sepenuhnya berbeda.”
68

“Seberapa terang pun sepotong arang yang terbakar, dia akan padam dengan cepat kalau dijauhkan dari api. Seberapa pun cerdasnya seseorang, dia akan segera kehilangan kehangatannya, dan bara apinya, kalau dia menjauhkan diri dari sesamanya manusia.”
57

Sekadar bicara tidaklah cukup, sebab kata-kata yang tidak diwujudkan menjadi tindakan, akan “membawa petaka”, seperti dikatakan William Blake.
40

Orang bodoh yang suka memberi nasihat tentang kebun kita, sebenarnya justru tidak pernah mengurus tanaman-tanamannya sendiri.
38

Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.
36

Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu.
35

Kita memang mesti berjuang untuk meraih impian-impian kita, tetapi kita juga harus tahu bahwa kalau jalur-jalur tertentu sudah tidak mungkin ditempuh, yang terbaik adalah menyimpan energi-energi kita untuk mencoba jalur-jalur lainnya.
29

Bait-bait puisi Frost:
Dua jalan bercabang di dalam hutan, dan aku…
Kupilih jalan yang jarang ditempuh,
Dan perbedaannya besar sungguh.
23

Saya ingat, tukang cukur saya bekerja siang-malam supaya anak perempuannya bisa lulus universitas dan memperoleh gelar. Akhirnya anak itu lulus, lalu mencari lowongan kerja ke mana-mana, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah pabrik semen. Tetap saja tukang cukur saya berkata dengan sangat bangga, “Anak perempuan saya punya gelar.”
Sebagian besar teman saya, dan sebagian besar anak-anak mereka, juga mempunyai gelar. Tetapi belum tentu mereka berhasil mendapatkan jenis pekerjaan yang mereka inginkan. Sama sekali tidak. Mereka masuk universitas karena seorang berkata–pada masa-masa ketika masuk universitas sangatlah penting–bahwa supaya bisa mendapatkan tempat yang mapan di dunia, orang mesti mempunyai gelar. Dengan demikian, dunia ini kehilangan kesempatan untuk memiliki orang-orang yang sebenarnya adalah tukang-tukang kebun yang hebat, tukang-tukang roti, pedagang-pedagang barang antik, pematung-pematung, dan penulis-penulis. Barangkali inilah saatnya untuk merenungkan kembali keadaan tersebut. Para dokter, insinyur, ilmuwan, dan pengacara memang perlu belajar di universitas, tetapi apakah setiap orang juga perlu berbuat demikian?
22-23

Kadang-kadang kita begitu terikat pada cara hidup kita, sehingga kita menolak sebuah kesempatan yang sangat bagus, hanya karena kita tidak tahu mesti diapakan kesempatan itu.
22

Ksatria cahaya tak perlu mencemaskan apa-apa lagi setelah menuntaskan tugasnya dan mewujudkan niatnya ke dalam gerakan; apa yang mesti dilakukan, telah dilakukannya. Dia tidak membiarkan dirinya dilumpuhkan rasa takut. Andai pun anak panah itu melesat dari sasarannya, masih ada kesempatan lain baginya, sebab dia bukan pengecut.
12

Intuisi bukanlah rutinitas, melainkan suatu sikap pandang yang melampaui teknik.
Jadi, setelah banyak berlatih, kita tidak perlu berpikir dulu sewaktu membuat gerakan; sebab semuanya sudah bagian dari eksistensi kita sendiri. Tetapi untuk bisa seperti itu, kita mesti berlatih dan mengulang-ulang.
Dan kalau itu belum cukup, Anda mesti mengulang dan berlatih.
9

Tindakan adalah pikiran yang mengejewantah.
9

(Alih bahasa: Tanti Lesmana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s