Syair Mitsuo Aida

Mitsuo Aida (1924-1991), penyair dan ahli kaligrafi yang puisi-puisinya mengingatkan kita akan pentingnya keluguan hati.

Karena telah menjalani hidupnya sepenuh-penuhnya, rerumputan yang kering gersang tetap menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang.

Bunga-bunga sekadar berbunga,
Dan ini mereka lalukan sebaik-baiknya.
Bunga lili putih yang mekar tak terlihat di lembah,
Tak butuh menjelaskan dirinya pada siapa-siapa;
Dia hidup hanya demi keindahan.
Namun kata “hanya” itu tak diterima manusia.

Andai tomat-tomat ingin menjadi melon,
Betapa menggelikannya.
Heran sungguh saya melihat,
Begitu banyak orang ingin menjadi yang bukan diri mereka;
Apa gunanya menjadikan diri sendiri bahan tertawaan?

Tak perlu kita selalu berpura-pura tangguh,
Tak guna membuktikan sepanjang waktu bahwa semuanya baik-baik saja,
Usahlah memikirkan apa kata orang,
Menangislah kalau perlu,
Menumpahkan air mata itu baik (sebab hanya dengan begitu kita akan bisa tersenyum lagi)

(Dari buku Paulo Coelho yang berjudul Seperti Sungai yang Mengalir
Diterjemahkan oleh Tanti Lesmana.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s