Anak Bajang Menggiring Angin – Sindhunata

Tidakkah keraguanmu sebenarnya adalah keraguanmu akan apa yang tak kau miliki sendiri?
461

Siapakah yang dapat mendiamkan suara cinta?
458

Cinta memang kaya rahasia pada dirinya, ia lebih daripada waktu yang mengandung perpisahan dan perjumpaan, ia lebih daripada dunia yang kaya dengan penderitaan dan kebahagiaan.
458

“Paman, ada seekor ikan kencana berkata padaku, layakkah kejujuran diukur dengan kegagalannya? Tidakkah kejujuran harus diterima dengan kepercayaan saja?”
308

Alangkah malang cinta yang memang suka tertipu oleh kelemahannya sendiri berupa keraguan itu! Atau adakah sesuatu yang lebih besar yang tersembunyi di balik cinta yang penuh kelemahan itu?
281

“Kumbakarna, Anakku! Mungkinkah kejahatan itu tiada, sejauh kebaikan masih bertakhta? Kebaikan itu justru akan makin bersinar cemerlang karena adanya kejahatan anakku. Lihatlah, amarah diwangkara seakan membakar habis semuanya, tapi di tepi Taman Argasoka, setangkai bunga padma mekar dengan indahnya. Dan betapa indahnya bunga padma itu, justru karena Alengka sedang hangus oleh amarah diwangkara. Berilah kesempatan bagi kebaikan bertakhta, jangan kau menghalangi kemekarannya dengan meniadakan kejahatan lawannya. Pada hematmu, Alengka ini tempat kejahatan. Pada hematku, justru di Alengka ini kelak kebaikan akan mekar. Siapa tahu, Nak, Alengka yang jahat ini adalah tempat yang paling baik bagi kebaikan untuk bertakhta, meski itu terjadi di kelak kemudian? Maka jangan kau hancurkan Alengka ini, Nak, karena dengan demikian kau menghancurkan kebaikan yang ingin bertakhta di atas kejahatan ini.
“Itulah, Nak, yang harus menjadi pegangan bagi seorang satria. Dan itu pula yang menjadi alasan mengapa satria harus membela dan memeluk negerinya. Meski negerinya jahat, bukan demi kejahatan itu ia membela negerinya, tapi demi kebaikan yang kelak akan bertakhta di atas kejahatan. Mengertikah kau, Kumbakarna?”
“Paman, tidakkah dengan demikian satria akhirnya juga harus menerima kejahatan negerinya?”
Mengapa kau masih bertanya demikian, Nak? Tidakkah sudah kukatakan, seorang satria mau menerima kejahatan negerinya, justru karena ia tahu di sanalah kebaikan akan makin cemerlang bertakkhta? Yang terakhir itulah yang harus menjadi kewajibanmu sebagai satria. Kalau kau berbuat demikian, akhirnya kau akan tahu bahwa sebenarnya tak ada negeri yang jahat. Negeri ini berasal dari kebahagiaan dan kedamaian warganya, atau setidak-tidaknya negeri ini terbentuk karena keinginan warganya yang ingin damai dan bahagia. Nanti kau akan tahu, Nak, kalau negeri ini jahat, sebenarnya bukan negerinya sendiri yang jahat, tapi penguasanyalah yang jahat. Maka hidup seorang satria itu memang berat, Nak. Satria itu harus bertapa di pucuk pedang, jadi sebenarnya lebih berat daripada pendeta yang bertapa di pucuk gunung. Satria itu tahu kejahatan dalam negerinya, tapi toh ia harus mempertahankannya dan mencari kesucian di dalamnya. Kalau tidak, ia buka seorang ksatria, Nak.”
260-261

“Nak, adakah burung terbang meninggalkan bekas tapak kakinya?”
“Tidak, Ibu.”
“Nak, adakah isi dari bambu yang berongga?”
“Tidak, Ibu.”
“Adakah pula batas dari samudra raya? Atau adakah burung yang terbangnya melebihi langit? Adakah punggung dari bundaran batu permata?”
“Tidak ada, Ibu.”
“Yang tidak ada itulah jaminan hidupmu, sebab yang tidak ada itu sebenarnya ada, hanya tak pernah kau melihatnya. Ia adalah kebaikan ilahi sendiri, ia bagaikan sinar yang tak bisa kau raba tapi senantiasa menghangatkan tubuhmu, ia bagaikan aroma yang bisa kau cium tapi kau tak tahu dari mana asalnya. Sudah lama ia menuntunmu, maka kini hendaklah kau menyadarinya. Kebaikan ilahi itulah yang akan menjadi jaminan hidupmu.”
245

“Maka, Kakakku, pada waktu negeri ini ada, pada hakekatnya baik dan indahlah keadaan semua warganya. Sebenarnya tak perlu diperintahlah mereka, karena mereka sudah dapat memerintah dirinya sendiri. Memang mereka tetap memerlukan raja, tapi bukan raja yang menguasainya melainkan mengaturnya supaya menjadi makin baik dan indah keadaan mereka.”
“Mereka adalah bunga-bunga yang subur tersebar di dunia. Tapi tidakkah mereka akan menjadi lebih indah dan baik bila mereka diatur menjadi taman-taman bunga? Mengatur untuk semakin indah itulah tugas seorang raja, Kakakku. Itulah arti memerintah yang sebenarnya. Jadi tugas seorang raja bukan untuk berkuasa melainkan untuk memerintah. Wahyu yang kau terima adalah wahyu untuk memerintah, bukan untuk berkuasa. Maka bisa terjadi seorang raja kelihatan memerintah, tapi sebenarnya tidak memerintah. Itulah raja yang hanya mengandalkan kekuasaannya. Raja yang memerintah akan dicintai rakyatnya, tapi raja yang berkuasa akan dibenci mereka. Akan tiba saatnya kekuasaan itu ambruk dengan sendirinya. Karena kekuasaan itu semata-mata hanya kekuatan manusia, sedangkan pemerintahan selalu datang dari kebaikan ilahi. Bila raja hanya berkuasa, mau tak mau wahyu untuk memerintah sudah meninggalkannya. Lalu apa arti kekuatan manusia tanpa daya ilahi itu?”
234-235

“Maka, Anakku, hiduplah dalam ketidaktahuan, karena ketidaktahuanlah yang menyebabkan orang mudah pasrah pada sesuatu yang tidak diketahuinya. Pasrahkanlah dirimu kepada alam yang kaya dengan rahasia yang tak terjangkau oleh pengetahuanmu, maka alam pun akan memeliharamu dan mencintai dirimu, lalu menjadi bagian dari dirimu, dan karena menjadi milikmu, alam takkan lagi menghalangi cita-cita kejujuranmu. Berhadapan dengan rahasia alam yang besar, seperti matahari yang kau rasakan menghalangi cita-citamu hari ini, demikian hakekat pengetahuan ini, Anoman. Bahwa pengetahuan itu justru ketidaktahuan, dan bahwa pengetahuan itu bukan untuk menguasai tapi untuk pasrah. Memang kedengarannya seperti suatu kemustahilan, Anakku. Tapi maukah kau percaya pada kemustahilan itu, dan pasrah dalam kemustahilan itu, supaya alam bisa dengan leluasa mencintai dirimu?”
227

Kehendak rasanya memang bisa menginginkan apa saja, tapi keterbatasannya menancapkan ketidakmampuannya terhenti pada cita-cita belaka.
222

Tidakkah alam selalu menolong apa saja yang masih berhasrat untuk hidup, meski terlalu lelah hidupnya dimakan usia tua?
221

Kebesaran alam seakan mengejeknya, membalikkan harapannya menjadi keputusasaan, menghancurkan kehendaknya yang teguh menjadi hasrat setitik debu.
221

“Kera Putih, masih lebih besarkah harapanmu daripada penyesalan akan kegagalanmu?”
219

Malam terbenam dalam malam.
217

“Rama, kakakku, ada sesuatu yang lebih besar daripada kasih sayang sepasang lelaki dan wanita. Itulah kehidupan sendiri! Kasih sayang sepasang lelaki dan wanita adakalanya hanya riwayat yang akan tamat. Tapi kehidupan ini terus berjalan dalam musim-musim yang takkan berakhir. Sedangkan kehidupan sendiri mau memaafkan kesalahan seseorang yang mengharapkan masa depan, masakah kau, Kakakku, tidak percaya bahwa Dewi Sinta dapat menyimpan kesuciannya demi kebahagiaan yang akan tiba? Relakan dirimu untuk percaya, kini kehidupan memang sedang merenggutnya, sementara ia menjadi korban demi masa depan dunia. Sekaranglah saatnya kau harus lebih mengandalkan diri pada kepercayaan daripada kasih sayang. Pada saat begini singkirkanlah perasaanmu akan kasih sayang, sebab dunia sedang ingin akan pembebasan, yang hanya bisa diperoleh dengan darah, keberanian, dan pengorbanan. Di saat ini wanita bukanlah tumpahan rasa rindu, ia adalah harapan akan pembebasan masa depan,” kata Laksmana meneguhkan keraguan kakaknya.
194

Pernahkah malam lelap dalam malam?
193

“Maka ingatlah, Kakakku, sebenarnya dalam perpisahan pun berada cinta. Malah cinta itu akan makin mekar di sana. Janganlah kau memisahkan kelemahan dan kekuatan, kejelitaan yang bahagia dan ketabahan yang menderita, kejujuran dan kepura-puraan. Tidakkah kau akan bangga, jika nanti kau melihat kekasihmu kuat karena kesendiriannya daripada lemah karena kalian selalu berdua? Bukankah ketabahan yang menderita akan membuat hatinya menjadi nirmala, melebihi kejelitaan lahirnya yang hanya sepintas kelihatan bahagia. Dan percayalah kejahatan dunia ini adakalanya terpaksa menantang orang untuk berpura-pura cinta terhadap orang lain demi kejujuran cintanya pada kekasihnya,”
172

“Maka perhatikanlah pula Barata, bahwa pertama-tama bukan hukum yang mengatur negeri, melainkan cinta yang memungkinkan kebebasan itu berkembang. Hukum itu semata-mata mengatur perjalanan manusia seperti nasib yang sudah dipastikan, sedangkan cinta memberi manusia kebebasan untuk meraih kesempurnaannya. Hukum itu adalah suatu ketimpalan, mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Sedangkan cinta itu lebih daripada hukum. Cinta itu adalah kemurahan hati, yang selalu siap memaafkan.”
130

“Jangan kau beri aku makan dengan makananmu, oh Ibu. Seorang anak ingin makanan yang halus, bukan makanan yang keras seperti santapan orang tua. Jangan pula kau paksakan pikiranmu padaku. Seorang anak mempunyai pikiran laksana bunga pudak yang mau mengenal alam, bukan pikiran orang tua yang sudah mau meninggalkan alam. Jangan pula kauberi aku dengan kebijaksanaanmu yang sudah lelah dan penat mengarungi dunia, karena dunia akan memberiku sendiri kebijaksanaan yang segar, lain daripada kebijaksanaan jamanmu.”
“Oh, Ibu. Aku bukannya anak yang tak mau taat kepada orang tua. Aku hanya ingin agar kau membimbing hidupku, bukan mengarahkan hidupku. Dunia ini berjalan, Ibu, dan ingin selalu membaharui dirinya, menjadi lebih segar dan merekah setiap pagi. Di mana aku harus menaruh mukaku terhadap dunia yang selalu segar dan merekah itu, kalau aku tiba-tiba menjadi tua karena terpaksa, akibat keinginanmu itu. Aku belum mau menjadi tua karena terpaksa, aku ingin berjalan sesuai dengan masa mudaku, semerbak bersama alam yang selalu muda,”
126

Keabadian bukan perjalanan waktu tanpa henti. Keabadian adalah kesejatian hidup yang satu dan ilahi. Dan itulah Purwajati. Bukan perjalanan hari-harilah yang melahirkan keabadian, sebaliknya keabadianlah yang dapat menghentikan perjalanan hari-hari.
73

Cinta selalu menemukan jalannya sendiri, anakku.
28

“Cinta menuntun mereka melewati jalan-jalan sempit penuh duri, tapi cinta membawa mereka melewati padang-padang terang bulan. Cinta menjerumuskan mereka ke dalam jurang-jurang dalam, tapi cinta mengangkat mereka ke puncak gunung kembar di mana berdiri pohon beringin kembar. Cinta menyeret mereka masuk ke pondok yang hampir rubuh bila dilihat dari luar, tapi begitu tiba di dalam mereka berada dalam balairung yang dihampari permadani yang tersulam aneka bunga-bungaan. Begitulah Sukesi, dalam cinta kebahagiaan dan penderitaan itu bersatu, lebur menjadi kehidupan,”
27

“Sukesi, kini hatimu berubah menjadi keindahan. Dan keindahan itulah milik rahasiamu. Keindahan itu tak dapat kau pelajari lebih daripada kebenaran, keindahan itu adalah keseimbangan, keseimbangan antara kebahagiaan dan penderitaan, antara kegembiraan dan kedukaan, antara harapan dan kenyataan. Dan justru dalam keseimbangan itulah kebahagiaan dan penderitaan lenyap, harapan dan kenyataan menghilang.”
23

Kebijaksanaan manusia tersembunyi dalam hatimu sendiri seperti malam yang bersayapkan terang, seperti kehidupan bersayapkan kematian.
23

“Sungai itu di mana-mana sama, Begawan. Ia sama di mata airnya, sama di muaranya. Airnya tetap sama meski ia mengarungi air terjun, menelentang di samudra raya, terjepit, di sela-sela bukit atau pegunungan. Ia sama dalam amarahnya ketika mengamuk menjadi air bah, sama seperti dalam keramahannya ketika bernyanyi menjadi sungai kecil di sebuah desa, sama seperti dalam kesedihannya ketika ia merintih menjadi hujan gerimis rintik-rintik,”
22

Dan hatinya pun terbuka akan suatu makna: rahasia sungai itu adalah rahasia hidupnya. Ia melihat sungai itu berjalan, tetap berjalan dan terus berjalan, tapi sungai itu tetap berada di sana, senantiasa di sana. Sungai itu seperti merindukan sesuatu dalam perjalanannya, namun justru dalam kerinduannya itu ia menjadi selalu baru.
22

Tenangkan hatimu seperti embun pagi yang belum terganggu matahari.
21

2 pemikiran pada “Anak Bajang Menggiring Angin – Sindhunata

  1. salam kenal, mohon maaf saya kurang paham dengan ceritanya.
    http://ziuma.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s