Bagaimana Aku Menghancurkan Hidupku? Izinkan Aku Menghitung Caranya

Cara tercepat adalah dengan pistol, tali,
dan menelan pil melebihi dosis.
Cara-cara itu pernah dicoba dan memang terbukti benar, jadi aku
dapat dengan cepat memadamkan nyala lilin kehidupan dan harapan
Cara lain tidak secepat tindakan tiba-tiba,
namun aku dapat menghancurkan diriku dengan rencana sedikit demi sedikit;
Satu jam, satu hari pada saatnya nanti dapat menjadi perjanjian kematian yang halus namun efektif
Itu dimulai saat aku merasa begitu letih untuk peduli dan aku tidak
lagi memiliki keyakinan bila aku mampu.
Ada juga juga cara yang enak seperti misalnya merokok dan mengisi penuh paru-paruku dengan tar hitam.
Untuk lebih meyakinkan, aku terbatuk-batuk dan suaraku menjadi serak, namun aku
selalu dapat berhenti sebelum aku mengambil genggaman terakhirku.
Balsem alkohol benar-benar membuat enteng syaraf-syarafku dan mematikan rasa otakku
Alkohol memang menolong mengatasi rasa sakitku, namun apa yang kudapatkan.
Pertengkaran keluarga, hari-hari yang hilang, dan mungkin dalam mobilku
ada tabrakan antara daging dan logam.
Lalu aku tidak akan lagi merasa.
Urat nadi dan pinggangku, membengkak dengan lemak yang berasal dari makanan yang kutelan, kentang goreng Perancis, kue pizza dan kue-kue lain yang enak
Jantungku yang lemah berdegup keras untuk memompa darah ke seluruh lemak, sehingga aku sulit untuk olahraga,
Namun aku tetap makan dan diet dan diet dan makan
Jadi dalam hidupku, kehilangan ribuan pound berat tubuhku bukanlah prestasi kecil.
Kudengar berulang-ulang kata-kata ibuku,
“Cuci piringmu, jutaan uang kau habiskan namun tak ada sesuatu yang kau makan.”
Luka dan penghinaan hari kemarin dengan patuh kucatat dalam sebuah buku harian dalam pikiranku,
Jadi, aku dapat selalu mengingat saat, hari dan nama seseorang yang bersifat tidak baik.
Energi yang kuhabiskan untuk menjaga buku harian dalam pikiranku
mencegahku hidup dalam kegembiraan pada saat ini.
Aku telah bertemu dengan kesuksesan. Aku terburu-buru dan dengan penuh rasa bingung menekan tubuhku sampai pada keadaan sangat membahayakan.
Kata-kata berikut ini terus bergaung ditelingaku – bersaing, bersaing
dan jangan pernah mundur,
Berjung keras untuk menjadi yang terbaik, begitu cepatnya jantungku berdetak.
Jadilah sempurna, jangan kurang dari itu. Maka suatu hari aku akan menjadi sukses.
Namun, saat tersesat di tengah hiruk-pikuk, terdengar suara tangis dari dalam diri
Berhentilah! Bersikaplah bijaksana. Inikah hadiahmu dari kehidupan?
Sekumpulan benda-benda disatukan saat terburu-buru menuju kematian,
namun tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan ‘mengapa’.
Bagaimana aku menghancurkan diriku? Aku telah menghitung beberapa caranya.
Apakah aku akan selalu membuat kehancuran itu lari?
Dapatkah aku pada akhirnya dapat belajar? Untuk hidup pada saat ini tanpa menunda-nunda
dan belajar untuk bermain?
Darimanakah aku harus memulainya?
Dengan mendengarkan suara dari dalam diri
Untuk memutuskan bahwa aku ingin berubah dan berhenti memainkan permainan membenci
Lalu akhirnya aku dapat berjalan dan tidak terpincang-pincang.
Harga yang kubayarkan tidak murah
Namun sesuatu yang bernilai akan kupetik,
Aku akan memulainya dengan harapan, meraih dengan penuh cinta,
Mencari dengan kepedulian, mencintai dengan pemberian
Jadi, sebelum aku mati, akhirnya aku benar-benar dapat hidup!

(Dari buku Psikologi Harapan hal 189-191, penulis Dr. Ken Olson)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s