20131005 “Kau bukan seperti yang dahulu kukenal.”

“Kau bukan seperti yang dahulu kukenal.”

Iya, aku seperti kehilangan diriku. Aku kehilangan spiritku. Betapa tahun-tahun kulewatkan seperti tak ada habisnya.

Orang-orang semakin cepat melaju dan aku semakin cepat tertinggal.
Aku menyerah.

(Maka terkoyaklah pakaiannya, dan telanjanglah ia)

“Kau tidak akan menjadi seperti dahulu, aku yakin. Aku rasa kau akan lebih baik dari dahulu.”

(Lalu tersungkurlah ia melihat tembok-tembok itu runtuh)

Lahirlah seekor kura-kura di tanah yang basah oleh keluh dan kesah itu. Betapa lincahnya anak kura-kura itu di kehidupan pertamanya. Menghadapi ombak pertamanya; dan tersentak tubuhnya jauh bahkan dari tempat lahirnya.
Tidak berhenti. Kakinya terus melaju menuju laut pertama itu. Hingga pada akhirnya seluruh tubuhnya masuk ke dalam kehidupannya; laut itu.

Seekor kura-kura, selincah apapun ia tak dapat menandingi ikan di laut, kancil di darat, bahkan burung di udara.
Tapi bukan karena itu si kura-kura harus menyatakan, “kiamat telah tiba”.

Inilah doa pertama dari seekor kura-kura itu:
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, aku kura-kura. Salam kenal. Izinkan aku cerita, sebelum aku meminta. Demikian.
Kulihat ikan-ikan di laut, mengapa ia tak seperti diriku. Aku memiliki kaki, sedangkan ia tidak. Namun ia begitu kencangnya.
Begitulah ceritanya, Tuhan.
Maka aku, si kura-kura ini meminta, bukan untuk melawan ikan-ikan yang diizinkan selincah-lincahnya.
Sejujurnya, diriku tak mampu melawan. Namun, Tuhan, mampukan aku untuk bertahan.
Sebab, apalah artinya jika aku mampu melawan dan kehilangan kawan. Apapun ejekan ikan-ikan kepada diriku, mampukan aku bertahan. Ikan-ikan itu kawanku. Amin.

Ada suara-suara yang berseru namun belum dimengerti, yang terucap di mulutnya hanya ini, “tidak terasa ya, kau sudah besar sekarang.” Tapi hatinya terus mengucapkan sesuatu tanpa ada yang mendengar. Demikian pula katanya dengan mata yang menahan air matanya yang mungkin sebentar lagi tumpah.
“Sesungguhnya aku bahagia hari ini, melihat kau tumbuh seperti ini. Kebanggaankulah kau. Aku ini menanam, dari mula kurawat kau. Dari tunas hingga ke pohonnya. Kusiram kau dengan kasih sayang. Kuajak kau bercakap tentang kegelisahanku. Namun aku tak boleh menyerah. Aku harus terus merawatmu hingga kau tumbuh dan berbuah.
Kini, aku menikmati buah pertamamu. Kau beri aku kesegaran ketika aku benar-benar haus dahaga. Ketika itu tubuhku berkelana ke mana-mana dan sekali lagi ketika kupulang, dari buahmulah aku minum.
Kau sudah besar sekarang, ya. Tapi harus kutahan air mataku, sebagai bentuk bahwa aku memang sedang bertahan.
“Terima kasih.” Sayup-sayup kudengar kalimat itu darimu. Lalu tumpahlah sukacita itu membasahi seluruh tubuhku.

(Kau sudah besar sekarang. Tapi aku, kini, sebatang kara. Semoga kau mampu menyelami ini. Aku sebatang kara.)

Kura-kura itu pergi dan pulang ke mana. Di situlah tempat tinggalnya, untuk mengaminkan doanya; bertahan.

(Di tahun-tahun berikutnya matilah ikan-ikan itu. Muncullah ikan-ikan baru. Kura-kura, masih bernyawa)

Suatu waktu kura-kura mendarat di sisi pantai dengan pasir putihnya untuk sekadar menepi menikmati lautan dari luar. Ada burung-burung di udara. Angin sepoi-sepoi, matahari senja, juga sepasang angsa. Indahnya kehidupan dipandangannya.
Bertemulah ia dengan si kancil yang cerdik akalnya.
“Engkau memiliki kaki namun kau tak bisa berlari. Kau melawan kodrat, hidupmu di darat!”
Kura-kura itu diam tanpa melawan. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya tanpa suara.

Berjalanlah kura-kura itu ditepi awal kehidupannya; sisi pantai itu.
Lantas mengadulah ia entah pada apa, entah pada siapa..
Di depan matanya, tiba-tiba laut itu terbelah sampai ke ujung cakrawala. Oleh apa, oleh siapa?
Dari situlah muncul semacam kumbang berjalan ke arahnya; kura-kura itu.
Kata kumbang itu, “mengapa kau belah lautan, kau kira aku tak bisa hidup di darat?!”
Kura-kura itu kira-kira tak tau harus menjawab apa.

“Kau memiliki cangkang!”
Sela kumbang, “cangkangku dapat kubuang, kucari lagi cangkang yang terbuang.”
“Tapi milikku tak dapat kubuang, cangkangku tumbuh dan berkembang.”

Menangislah kura-kura itu lalu masuk ke kehidupannya; laut itu.
Kemudian laut itu bersatu kembali dan kumbang itu pergi ke tempat ia kembali.

Kancil melukai hatinya. Kata-katanya yang masuk ke dalam telinga tak bisa lagi dikorek untuk dibuang dipikirannya.
“Engkau melawan kodrat! Hidupmu di darat!”

Di manakah pohon kehidupan, pohon pengetahuan disembunyikan? Jika kudapat temukan, akankah dihadang oleh pedang?
Kini aku sudah telanjang, tak perlu kututup dengan daun atau kembang. Tuhan tau aku telanjang.
Dari perut bumi aku tak membawa apa-apa. Ke dalam perut bumi aku tak bawa apa-apa.

“Tapi aku harus sesekali ke atas, menghirup udara yang tak bisa ikan-ikan lain lakukan. Aku bangga pada diriku, bukan karena tak bisa bernafas dengan insang. Aku bangga karena aku bisa seperti ikan-ikan lain. Berenang ke laut-laut yang dalam, namun bernafas sepertimu. Aku tak lagi perlu berpikir kenapa harus seperti itu. Lautan penuh misteri, ketika kau temukan diri kau kehilangan arti, namun ketika kau temukan arti kau kehilangan diri. Hiduplah, tak usah bersusah.” Ujar paus itu di dasar lautan, melihat kura-kura diam dicangkangnya.

2 pemikiran pada “20131005 “Kau bukan seperti yang dahulu kukenal.”

  1. Ikan – ikan itu kawanku aamin😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s