Aleph – Paulo Coelho

Hanya ada dua hal yang dapat mengungkapkan rahasia-rahasia terbesar kehidupan: penderitaan dan cinta.
305

Tidak ada seorang pun yang benar-benar mencintai seseorang akan menghancurkan orang yang dicintai itu atau dirinya sendiri.
301

Itulah yang membuat hidup menarik–percaya pada harta karun dan pada mukjizat.
293

Kadang kau harus berkelana sampai jauh untuk menemukan apa yang sesungguhnya berada di dekatmu.
292

“Mungkinkah menjauhi jalan yang telah digariskan Tuhan? Mungkin saja, tapi itu selalu salah. Mungkinkah menghindari rasa sakit? Mungkin saja, tapi kau tidak akan pernah belajar apa-apa. Mungkinkah mengenal sesuatu tanpa pernah mengalaminya? Mungkin saja, namun hal itu tidak akan pernah menjadi bagian dirimu.”
276

“Aku takut pada rasa takutku. Aku meminta maaf pada diri sendiri bukan karena berada di sini, namun karena aku selalu egois dalam menghadapi rasa sakitku. Bukannya memaafkan, aku memikirkan balas dendam. Bukan karena aku lebih kuat, tapi karena aku selalu merasa menjadi pihak yang lebih lemah. Setiap kali aku meluki orang lain, aku lebih melukai diriku sendiri. Aku mempermalukan orang lain agar aku sendiri merasa dipermalukan; aku menyerang orang lain agar aku sendiri merasa dipermalukan; aku menyerang orang lain untuk merasakan bahwa hatiku disakiti.”
272

Ketuklah pintu dan cari tahu apa yang hilang dari hidupmu. Pemburu selalu tahu harus berbuat apa–makan atau dimakan.
263

“Aku mencintaimu karena semua cinta di dunia ini seperti sungai berbeda-beda yang akhirnya mengalir menuju danau yang sama. Semuanya bertemu dan kemudian menjadi satu cinta yang menjadi hujan dan memberkati bumi.
“Aku mencintaimu seperti sungai yang menciptakan keadaan-keadaan yang tepat bagi pohon-pohon, semak-semak, dan bunga-bunga untuk tumbuh dan berkembang di pinggirannya. Aku mencintaimu seperti sungai yang memberikan air pada yang haus dan mengantar orang-orang ke mana pun tempat yang mereka tuju.
“Aku mencintaimu seperti sungai yang memahami bahwa ia harus mengalir ke arah berbeda saat melewati air terjun dan beristirahat di cekungan-cekungan rendah. Aku mencintaimu karena kita semua lahir di tempat yang sama, pada sumber yang sama, sehingga sumber air untuk kita selalu tersedia. Jadi, saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.
“Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.
“Aku menerima cintamu dan memberikan cintaku. Bukan cinta lelaki pada perempuan, bukan cinta ayah pada anak, bukan cinta Tuhan pada umat-Nya, melainkan cinta tanpa nama dan tanpa penjelasan, seperti sungai yang tidak bisa menjelaskan kenapa ia mengikuti alur tertentu dan hanya terus mengalir. Cinta yang tidak meminta dan memberikan apa-apa; sungai yang hanya hadir, apa adanya. Aku tidak akan pernah jadi milikmu, dan kau tidak akan pernah jadi milikku; meski begitu, jujur kukatakan: aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.”
247-249

Hal-hal yang paling luar biasa di dunia ini sesungguhnya adalah semua yang berada dalam jangkauan semua orang.
246

Tahu cara menghargai dan menghormati lawan-lawanmu adalah sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang dilakukan para penjilat, pengecut, dan pengkhianat.
239

Kata-kata seringnya memberi kita kesan palsu bahwa kita dimengerti dan paham apa yang dikatakan orang lain. Namun, begitu kita berbalik dan berhadapan langsung dengan nasib, kita mendapati bahwa kata-kata tidak cukup. Aku kenal banyak orang yang merupakan pembicara yang hebat, namun tidak mampu menjalankan apa yang mereka khotbahkan. Selain itu, menggambarkan dan mengalami sesuatu benar-benar dua hal yang berbeda. Sejak lama aku sadar bahwa ksatria yang bertualang mencari impiannya harus mencari inspirasi berdasarkan apa yang benar-benar ia lakukan, bukan apa yang ia bayangkan sedang ia lakukan.
223-224

Penderitaan berasal dari hawa nafsu, bukan dari rasa sakit.
217

Pelukan berarti: aku tidak merasa terancam olehmu; aku tidak takut berada sedekat ini; aku bisa merasa rileks, merasa betah, merasa dilindungi dan berada dekat seseorang yang memahami aku. Konon, setiap kali kita memeluk seseorang dengan hangat, umur kita bertambah sehari.
196

Salah satu prinsip paling terkenal dalam seni bela diri adalah tidak melawan. Petarung-petarung menggunakan energi lawan dan membalikkannya pada mereka.
188-189

“Aku memiliki kemampuan mencintai, terlepas dari apakah aku balas dendam,
Kemampuan memberi, bahkan saat aku tidak punya apa-apa,
Kemampuan bekerja dengan bahagia, bahkan di tengah kesulitan-kesulitan,
Kemampuan mengulurkan tangan, bahkan saat aku benar-benar sendirian dan diabaikan,
Kemampuan mengusap air mata, bahkan saat aku menangis,
Kemampuan percaya, bahkan saat tidak seorang pun percaya padaku.”
186

“Aku memaafkan air mata yang harus kutumpahkan,
Aku memaafkan rasa sakit dan semua kekecewaan,
Aku memaafkan semua pengkhianatan serta kebohongan,
Aku memaafkan semua fitnah dan tipu-muslihat,
Aku memaafkan kebencian serta penganiayaan,
Aku memaafkan pukulan-pukulan yang melukaiku,
Aku memaafkan impian-impian yang rusak,
Aku memaafkan harapan-harapan yang mati sebelum waktunya,
Aku memaafkan permusuhan serta kecemburuan,
Aku memaafkan ketidakpedulian dan niat jahat,
Aku memaafkan ketidakadilan yang dijalankan atas nama keadilan,
Aku memaafkan kemarahan serta kekejaman,
Aku memaafkan kelalaian dan sikap menghina,
Aku memaafkan dunia dan semua kejahatannya.”
184-185

“Kita tidak akan pernah bisa melukai jiwa, sama seperti kita tidak akan pernah bisa melukai Tuhan, namun kita bisa terpenjara oleh kenangan-kenangan kita, dan semua itu membuat hidup kita sengsara bahkan saat kita memiliki semua hal yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia.”
181

Kehidupan adalah sesi latihan panjang dalam persiapan menghadapi apa yang akan terjadi. Kehidupan dan kematian kehilangan makna; yang ada hanya tantangan-tantangan untuk dihadapi dengan kebahagiaan dan ditaklukkan dengan ketenangan.
162

Aku menatap air beku di air mancur itu dan aku tahu bahwa air itu akan mencair suatu hari nanti, lalu membeku, lalu mencair kembali. Begitu juga dengan hati kita, yang juga dikendalikan waktu namun tidak pernah berhenti selamanya.
154

“Tapi bukankah doa merupakan cara untuk membawa kita mendekat pada Tuhan?”
“Biarkan aku menjawab dengan pertanyaan lain: apakah semua doamu bisa membuat matahari terbit besok? Tentu saja tidak. Matahari terbit karena mengikuti aturan hukum semesta. Tuhan selalu dekat pada kita, terlepas dari kita berdoa padanya atau tidak.”
“Jadi menurutmu doa-doa kita tidak ada gunanya?” Kata Tatiana.
“Bukan begitu. Kalau kau tidak bangun pagi, kau takkan pernah melihat matahari terbit. Kalau kau tidak berdoa, Tuhan mungkin dekat, tapi kau takkan merasakan kehadiran-Nya..”
152

Sendirian membuatku rapuh, namun keadaan itu juga membuatku lebih terbuka.
150

Aku akan memancing kecemburuannya, karena dengan begitu ia akan tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi kecemburuan orang lain. Aku akan menerima cinta kasihnya tanpa syarat, karena saat ia mencintai orang lain dengan tanpa syarat, ia akan tahu apa yang ia hadapi.
147

“Saat seorang Rabi besar bernama Israel Shem Tov melihat bahwa orang-orang Yahudi diperlakukan dengan buruk, ia pergi ke hutan, menyalakan api suci, dan mengucapkan doa khusus untuk meminta Tuhan melindungi kaumnya. Lalu Tuhan mengirimkan mukjizat untuknya.
“Belakangan, muridnya, Maggid dari Mezritch, mengikuti langkah sang guru dan pergi ke bagian yang sama hutan itu dan berkata, ‘Penguasa Semesta, aku tidak tahu cara menyalakan api suci, namun aku mengetahui doa khusus; kumohon, dengarkan aku!” Dan mukjizat pun terjadi lagi.
“Satu generasi berlalu, dan ketika Rabi Mosche-leib dari Sasov melihat bagaimana kaumnya dibunuh, ia pergi ke hutan dan berkata, ‘Aku tidak tahu cara menyalakan api suci, aku juga tidak mengetahui doa khususnya, namun aku masih mengingat tempat itu. Tolong kami, Tuhan!” Dan Tuhan pun menolong mereka.
Lima puluh tahun kemudian, Rabi Israel dari Rizhin, dari atas kursi rodanya, berbicara pada Tuhan dan berkata, ‘Aku tidak tahu cara menyalakan api suci, aku juga tidak mengetahui doa khususnya, dan bahkan tidak bisa menemukan tempat di hutan itu. Aku hanya bisa menceritakan kisah ini dan berharap Tuhan mendengarkan aku.'”
144-145

“Kalau begitu, kenapa ada begitu banyak konflik?”
“Agar dunia bisa berevolusi, agar tubuh bisa berubah. Itu bukan masalah personal. Dengarkan.
“Saat ini, rel dan roda-roda kereta api sedang berkonflik. Kita bisa mendengar suara gesekan antar-logam. Namun rel membenarkan keberadaan roda dan sebaliknya. Suara gesekan logam tidak relevan; itu hanyalah manifestai, bukan seruan protes.”
143

“Tapi kau bilang tadi kita adalah bagian dari Keseluruhan. Apa itu berarti kita tidak nyata?”
“Keberadaan kita nyata, namun itu sama saja dengan keberadaan sel. Sebuah sel bisa menyebabkan kanker berbahaya memasuki suatu organisme, namun pada saat yang sama, sel itu dapat mengirimkan elemen-elemen kimiawi yang menghasilkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Namun sel tersebut bukanlah orangnya.”
142-143

“Cinta selalu menang atas apa yang kita sebut kematian. Itulah sebabnya kita tidak perlu berduka saat mengingat orang-orang yang kita cintai, karena mereka tetap dicintai dan tetap berada di sisi kita. Sulit bagi kita untuk menerima hal itu. Kalau kau tidak memercayainya, maka tidak ada gunanya aku mencoba menjelaskan.”
142

Butuh usaha keras untuk membebaskan dirimu dari kenangan, namun begitu kau berhasil, kau mulai menyadari bahwa kau mampu mencapai lebih dari yang bisa kaubayangkan. Kau hidup dalam tempat luas yang disebut Semesta, dan Semesta menyimpan semua solusi dari semua masalah. Datangi jiwamu; jangan datangi masa lalu. Semesta melalui berbagai mutasi dan membawa masa lalu bersamanya. Kita menyebut setiap mutasi tersebut “kehidupan”, namun sebagaimana sel-sel tubuhmu berubah dan kau tetap sama, waktu juga tidak berlalu, waktu hanya berubah. Kau mengira dirimu sekarang sama dengan dirimu di Ekaterinburg, padahal beda. Aku bahkan bukan orang yang sama dengan diriku yang mulai bicara tadi. Kereta api juga tidak berada di tempat yang sama dengan waktu Hilal memainkan biolanya. Semuanya sudah berubah; kitalah yang tidak bisa melihatnya.”
140-141

“Kita tidak seperti yang orang lain harapkan. Kita adalah orang yang sesuai dengan keputusan kita sendiri. Memang mudah saja menyalahkan orang lain. Kau bisa menghabiskan seluruh hidupmu menyalahkan dunia, namun kesuksesan atau kegagalanmu sepenuhnya tergantung pada tanggung jawabmu sendiri. Kau bisa mencoba menghentikan waktu, tapi itu benar-benar membuang energi.”
139

“Mungkinkah kita memasang cinta dan membuatnya tetap tidak berubah dalam waktu? Well, kita bisa mencoba, namun itu akan mengubah kehidupan kita menjadi neraka. Aku tidak menikah selama lebih dari dua puluh tahun dengan orang yang sama, karena baik dia maupun aku tidak pernah tetap sama. Itulah sebabnya hubungan kami jauh lebih hidup dibanding dulu. Aku tidak pernah mengharapkannya bersikap seperti ketika kami pertama kali bertemu. Ia juga tidak ingin aku tetap seperti ketika aku pertama kali bertemu dengannya dulu. Cinta melampaui waktu, atau tepatnya, cinta adalah waktu sekaligus ruang, namun semuanya berpusat pada satu titik tunggal yang terus berevolusi–Aleph.”
138-139

“Apakah kita merupakan hasil dari apa yang kita pelajari?”
“Kita belajar pada masa lalu, namun kita bukanlah hasil dari hal itu. Kita menderita pada masa lalu, mencintai pada masa lalu, menangis dan tertawa pada masa lalu, namun itu tidak berguna pada masa kini. Masa kini memiliki tantangan-tantangannya sendiri, sisi baik dan sisi buruknya. Kita tidak bisa menyalahkan ataupun berterima kasih pada masa lalu atas apa yang terjadi sekarang. Setiap pengalaman cinta baru sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu. Pengalaman itu selalu baru.”
138

Waktu tidak bergerak, waktu juga tidak menetap. Waktu berubah.
138

Aku kenal banyak orang yang peduli pada orang lain dan luar biasa murah hati untuk memberi dan sangat senang saat ada orang yang meminta nasihat atau bantuan. Dan itu sah-sah saja; menolong orang lain adalah tindakan yang baik. Namun sebaliknya, aku kenal sedikit sekali orang yang mampu menerima, bahkan kalaupun hadiah itu diberikan dengan penuh kasih dan kemurahan hati. Seakan tindakan menerima membuat mereka merasa tidak percaya diri, seakan bergantung pada orang lain adalah hal yang hina. Mereka beranggapan, ‘Jika seseorang memberi kita sesuatu, itu karena kita mampu mendapatkannya sendiri.’ Atau, ‘Orang yang memberiku ini sekarang suatu hari nanti akan memintanya lagi dengan bunga.’ Atau yang lebih parah, ‘Aku tidak layak diperlakukan dengan baik.’
#111

Kata-kata adalah kehidupan yang dituangkan ke atas kertas.
103

Letakkan semua perasaanmu di luar dirimu dan kau akan diperbarui.
96-97

Kau tidak perlu mendaki gunung untuk tahu bahwa gunung itu tinggi.
90

“Kalau kau menghabiskan terlalu banyak waktu berusaha mencari tahu kebaikan atau keburukan orang lain, kau akan melupakan jiwamu sendiri dan akhirnya kelelahan serta dikalahkan oleh energi yang kauhabiskan untuk menghakimi orang lain.”
86

Waktu bukanlah pita kaset yang bisa digulung atau diputar ke belakang.
81

Hidup berarti mengalami berbagai hal, bukan hanya duduk-duduk dan memikirkan makna hidup.
80

“Hal yang menyakiti kita adalah hal yang menyembuhkan kita”
73-74

“Apa yang tidak bisa disembuhkan harus ditahan”
65

Rutinitas.
Rutinitas tidak ada hubungannya dengan pengulangan. Untuk menjadi sangat ahli dalam bidang apa pun, kau harus berlatih dan mengulang, berlatih dan mengulang, sampai teknik tersebut menjadi intuitif…
Aku terpesona dengan pekerjaan pandai besi yang tinggal dekat situ. Aku biasanya akan duduk berjam-jam lamanya, melihat ayunan palunya naik-turun menghantam baja merah panas itu, menebarkan percikan api ke sekeliling, seperti kembang api. Ia pernah berkata, “Kau mungkin beranggapan aku melakukan hal yang sama berulang-ulang, ya?”
“Ya,” kataku.
“Well, kau salah. Setiap kali aku menghantamkan palu, intensitas pukulannya berbeda; kadang lebih keras, kadang lebih pelan. Namun aku baru mengetahui hal itu setelah aku mengulang-ulang gerakan yang sama selama bertahun-tahun, sampai tiba momen saat aku tidak perlu berpikir lagi–aku hanya membiarkan tanganku yang bekerja.”
63

Seorang pria bernama Ali yang sedang butuh uang meminta bosnya untuk menolongnya. Bosnya memberinya tantangan: kalau ia bisa menghabiskan sepanjang malam di puncak gunung, ia akan mendapatkan imbalan besar; jika ia gagal, ia harus bekerja tanpa dibayar. Kisah tersebut berlanjut:

Saat meninggalkan toko, Ali merasakan angin beku yang bertiup. Ia merasa takut dan memutuskan untuk bertanya pada sahabatnya, Aydi, apakah menurut sahabatnya ia gila karena menerima taruhan itu. Setelah berpikir sejenak, Aydi menjawab, “Jangan khawatir, aku akan menolongmu. Besok malam, saat kau duduk di puncak gunung, lihatlah lurus ke depan. Aku akan berada di puncak gunung di seberang sana. Sepanjang malam, aku akan menyalakan api unggun untukmu. Tataplah api itu dan ingatlah persahabatan kita, itu akan membuatmu hangat. Kau akan berhasil melalui malam, dan setelahnya aku akan meminta imbalan padamu.”
Ali memenangkan taruhan itu, mendapatkan uang, lalu pergi ke rumah sahabatnya.
“Kau bilang kau menginginkan semacam imbalan.”
Aydi berkata, “Ya, tapi bukan uang. Berjanjilah bahwa jika angin dingin bertiup dalam hidupku, kau akan menyalakan api unggun persahabatan untukku.”
59-60

“Aku pernah membaca bahwa dalam hutan berisi seratus ribu pohon, tak ada dua daun yang sama. Dan dua perjalanan di satu jalur yang sama pun tidak sama. Jika kita terus bepergian bersama, berusaha mencocokkan segala sesuatu dengan cara pandang kita, tidak ada satu pun dari kita yang akan mendapatkan manfaatnya…”
57

Kita perlu menjadi orang asing untuk diri kita sendiri. Maka cahaya tersembunyi dalam jiwa kita akan menerangi apa yang perlu kita lihat.
56

“Tak seorang pun menjadi nabi di daerahnya sendiri.”
56

Aku senang aku akan mampu maju terus sekalipun awalnya sukar. Aku mulai terbiasa dengan perjalanan ini sekarang.
50-51

Kata-kata adalah air mata yang telah ditulis. Air mata adalah kata-kata yang perlu ditumpahkan. Tanpa air mata, sukacita kehilangan semua terangnya dan kesedihan tidak memiliki akhir. Jadi, terima kasih, untuk air matamu.
49

Sukacita kembali ada dalam hidupku, namun aku berbaring terjaga sepanjang malam, bertanya-tanya apakah perasaan sukacita itu akan tetap bersamaku saat aku kembali ke rumah.
46

Jika aku bisa memahami apa yang terjadi di dunia, aku bisa memahami apa yang terjadi dalam diriku.
44

“Seorang lelaki tersandung dan jatuh ke lubang dalam. Ia meminta pendeta yang lewat untuk membantunya. Pendeta itu memberkatinya dan terus berjalan. Berjam-jam kemudian, seorang dokter datang. Lelaki itu meminta tolong, namun dokter itu hanya mempelajari cederanya dari jauh, menuliskan resep dan menyuruhnya membeli obat tersebut dari apotek terdekat. Akhirnya, orang tak dikenal muncul. Ia kembali minta tolong dan orang asing itu melompat ke lubang. “Sekarang, apa yang akan kita lakukan?” Kata orang itu. “Sekarang kita berdua terperangkap di bawah sini.” Orang asing itu menjawab, “tidak, kita tidak terperangkap. Aku dari daerah sini dan aku tahu cara keluar.”
42

Itulah karakteristik yang menandai seorang pejuang: pengetahuan bahwa tekad dan keberanian tidak sama. Keberanian dapat menarik rasa takut dan kekaguman berlebihan, tapi tekad menuntut kesabaran dan komitmen.
37

Kita selalu mencoba mengartikan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan bukan sebagaimana mereka sesungguhnya.
31

Setiap kali aku menolak mengikuti takdirku, hal yang luar biasa sulit untuk dihadapi akan terjadi dalam hidupku. Dan itulah ketakutan terbesarku saat ini, bahwa akan ada tragedi. Tragedi selalu membawa perubahan radikal dalam hidup kita, perubahan yang berhubungan dengan prinsip yang sama: kehilangan. Saat menghadapi kehilangan dalam bentuk apa pun, tidak ada gunanya berusaha memperbaiki apa yang sudah terjadi; lebih baik memanfaatkan celah besar yang terbuka di depan kita dan mengisinya dengan hal baru. Secara teori, setiap kehilangan adalah untuk kebaikan kita; namun pada praktiknya, saat itulah kita mempertanyakan keberadaan Tuhan dan bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sudah kulakukan sehingga pantas menerima hal ini?
Tuhan, hindarkan aku dari tragedi dan aku akan mengikuti keinginan-keinginan-Mu.”
27

Jika aku benar-benar sudah mencapai batasku, rasa bersalah dan frustasi ini pasti sudah berlalu, namun perasaan-perasaan ini masih ada. Rasa takut dan gemetar. Saat perasaan tidak puas menetap, itu berarti perasaan itu ditempatkan oleh Tuhan karena satu alasan saja: kau perlu mengubah segalanya dan maju.
27

Apakah ini hanya kegelisahan sementara? Tidakkah cukup untuk mengucapkan doa-doa seperti biasa, menghormati alam seakan alam adalah suara Tuhan, serta merenungkan keindahan di sekelilingku? Kenapa maju jika aku yakin bahwa aku sudah mencapai batasku?
Kenapa aku tidak bisa seperti teman-temanku?
26-27

“… Ke mana pun kau berniat pergi. Cari tahu apa urusanmu yang belum selesai, dan selesaikanlah. Tuhan akan menuntunmu, karena segala sesuatu yang pernah dan akan kaualami berada pada saat ini. Dunia sedang diciptakan dan dihancurkan saat ini juga. Siapa pun yang pernah kau temui akan muncul kembali, siapa pun yang hilang dalam hidupmu akan kembali. Jangan khianati anugerah yang telah diberikan padamu. Pahamilah apa yang terjadi dalam dirimu dan kau akan memahami apa yang terjadi dalam diri semua orang lain. Jangan bayangkan bahwa aku datang untuk membawa perdamaian. Aku datang membawa pedang.”
25

Well, sebenarnya, aku selalu gila bepergian sejak masih muda. Namun akhir-akhir ini, sepertinya aku menghabiskan hidupku di berbagai bandara serta hotel, dan nuansa petualangan dengan cepat berubah menjadi kebosanan kronis!
Kegiatan bepergian tidak terkait pada uang, melainkan pada keberanian. Aku menghabiskan sebagian besar masa mudaku dengan berkeliling dunia sebagai hippie, dan berapa banyak uang yang kumiliki saat itu? Tidak ada. Aku nyaris tidak punya cukup uang untuk membeli tiketku, namun tetap beranggapan bahwa itu tahun-tahun terbaik masa mudaku: makan sembarangan, tidur di stasiun-stasiun kereta, tidak mampu berkomunikasi karena aku tidak tahu bahasanya, dan terpaksa mengandalkan orang lain untuk tempat menginap pada malam hari.
Setelah berminggu-minggu berada di jalan, mendengarkan bahasa yang tidak kaupahami, menggunakan mata uang yang nilainya tidak sepenuhnya kaumengerti, menyusuri jalan-jalan yang sama sekali belum pernah kaulewati sebelumnya, kau mendapati bahwa “DIRI”-mu yang dulu, bersama dengan segala sesuatu yang pernah kaupelajari sebelumnya, sama sekali tidak berguna di hadapan tantangan-tantangan baru itu, dan kau mulai sadar bahwa jauh di bawah alam bawah sadarmu ada seseorang yang jauh lebih menarik, penuh petualangan, dan lebih terbuka pada dunia serta pengalaman-pengalaman baru.
Lalu akan datang hari saat kau berkata: “Cukup!”
“Cukup!” kataku. “Bepergian, bagiku, hanya menjadi rutinitas monoton.”

“Tidak, tidak cukup, dan tidak akan pernah cukup,” kata J. “Hidup kita adalah perjalanan konstan, dari kelahiran sampai kematian. Latar belakangnya berubah, orang-orangnya berubah, kebutuhan-kebutuhan kita berubah, namun keretanya terus bergerak. Kehidupan adalah kereta api, bukan stasiun. Dan yang kaulakukan sekarang bukanlah bepergian, kau hanya berganti-ganti negara, dan itu sama sekali berbeda.”

Aku menggeleng. “Itu takkan membantu. Jika aku perlu memperbaiki kesalahan yang kulakukan di kehidupan sebelumnya dan aku sepenuhnya menyadari kesalahan itu, aku bisa melakukannya di sini. Di sel penjara itu, aku hanya mematuhi perintah-perintah seseorang yang sepertinya mengetahui kehendak Tuhan: kau. Lagi pula, aku sudah meminta maaf pada sedikitnya empat orang.”

“Namun kau tidak pernah menemukan karakteristik kutukan yang ditimpakan padamu.”

“Kau juga dikutuk waktu itu. Apa kau sempat mengetahui jenis kutukannya?”

“Ya. Dan aku bisa memastikan bahwa kutukan itu jauh lebih berat daripada kutukanmu. Kau hanya melakukan satu tindakan pengecut, sementara aku berulang kali bersikap tidak adil. Namun pemahaman itu membebaskanku.”
23-24

Aku mulai gila bepergian. Pelajaran-pelajaran besar yang kupelajari adalah yang kudapatkan lewat perjalanan-perjalanan itu.
23

“Tidak ada gunanya duduk di sini, menggunakan kata-kata yang tidak berarti apa-apa. Pergilah dan bereksperimen. Sudah waktunya kau keluar dari sini. Pergi dan taklukkan kembali kerajaanmu yang mulai tercemar oleh rutinitas. Berhenti mengulang-ulang pelajaran yang sama karena kau tidak akan mempelajari hal baru dengan cara itu.”

“Bukan rutinitas yang jadi masalah. Aku hanya tidak bahagia.”

“Itulah yang kumaksud dengan rutinitas. Kau mengira kau ada karena kau tidak bahagia. Orang lain mendapatkan eksistensi dengan bergantung pada masalah-masalah mereka dan menghabiskan sepanjang waktu berbicara tanpa henti tentang anak-anak mereka, para istri dan suami mereka, sekolah, pekerjaan, teman. Mereka tidak pernah berhenti dan berpikir; Aku ada di sini. Aku hasil dari segala sesuatu yang sudah terjadi dan akan terjadi, namun aku di sini. Jika aku melakukan perbuatan yang salah, aku bisa memperbaikinya atau setidaknya meminta maaf. Jika aku melakukan perbuatan yang benar, aku akan menjadi lebih bahagia dan semakin terhubung dengan masa sekarang.”
21-22

Dalam dunia sihir–dan dalam hidup–yang ada hanyalah momen kini, ‘sekarang’. Kau tidak bisa mengukur waktu seperti mengukur jarak di antara dua titik. “Waktu” tidak berlalu. Sebagai manusia, kita mengalami kesulitan besar untuk memusatkan perhatian pada masa sekarang; kita selalu berpikir tentang apa yang telah kita lakukan, tentang bagaimana kita seharusnya melakukannya, tentang berbagai konsekuensi perbuatan kita, dan tentang betapa kita tidak berbuat seperti yang seharusnya. Atau kita berpikir tentang masa depan, tentang apa yang akan kita lakukan besok, pencegahan-pencegahan apa yang harus kita lakukan, bahaya-bahaya apa yang menanti kita di depan sana, bagaimana cara mencegah apa yang tidak kita inginkan dan bagaimana cara mendapatkan apa yang selalu kita dambakan.
“Di sini, sekarang, kau pasti mulai bertanya-tanya: apa benar ada yang salah? Ya, ada. Namun tepat pada saat ini, kau juga sadar bahwa kau bisa mengubah masa depanmu dengan membawa masa lalu ke masa sekarang. Masa lalu dan masa depan hanya ada di memori kita. Namun masa sekarang berada di luar waktu, ia Kekal. Di India, mereka menggunakan kata “karma” karena tidak memiliki istilah yang lebih baik. Namun ini konsep yang jarang dijelaskan dengan tepat. Bukan apa yang kaulakukan di masa lalu yang akan memengaruhi masa sekarang. Apa yang kaulakukan sekaranglah yang akan menembus masa lalu dan mengubah masa depan.”
20, 21

“Itu karena, seperti semua orang lain di planet ini, kau percaya bahwa waktu akan mengajarimu cara mendekat pada Tuhan. Namun waktu tidak mengajari apa-apa; waktu hanya membuat kita merasa lelah dan bertambah tua.”
19

Keraguan mendorong orang maju.
17

Doa Sufi.
“Oh Tuhan, saat aku mendengarkan suara-suara binatang, suara-suara pohon, gumaman air, nyanyian burung, desau angin, atau gemuruh guntur, aku menganggap semuanya bukti kesatuanMu; aku merasa Kau memang Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Mengerti, dan Maha Adil.
Aku mengenaliMu, Oh Tuhan, dalam cobaan-cobaan yang kulalui. Biarlah kesenanganMu menjadi kesenanganku juga. Biarlah sukacitaMu menjadi layaknya sukacita seorang Ayah terhadap putranya. Dan biarlah aku mengingatMu dengan tenang dan dengan tekad kuat, bahkan saat aku sulit berkata bahwa aku mencintaiMu.”
16-17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s