Sang Alkemis – Paulo Coelho.

Tapi di sinilah dia, di titik pencarian hartanya, dan dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa tidak ada proyek yang selesai sampai tujuan proyek itu tercapai.
124

“Cermatilah tempat jatuhnya airmatamu. Di situlah aku berada, dan di situlah hartamu.”
123

“Tak peduli apa yang dilakukannya, setiap orang di dunia memainkan peran sentral dalam sejarah dunia. Dan biasanya ia tidak menyadarinya.”
123

Ada orang yang bilang, ‘Semua yang terjadi satu kali tidak akan terjadi lagi. Tapi semua yang terjadi dua kali pasti akan terjadi untuk ketiga kali.’
121

Karena ketika kita mencinta, kita selalu berjuang untuk menjadi lebih baik daripada diri kita sekarang.
116

karena angin
tahu segalanya. Mereka bertiup melintasi dunia tanpa tempat lahir, dan tanpa tempat mati.
112

“Apa yang kau inginkan di sini hari ini?”gurun bertanya padanya. “Bukankah kemarin kau sudah menghabiskan waktu memandangiku?”
“Di sebuah tempat kau menyimpan orang yang kucinta,” kata si bocah. “Maka, saat aku memandangi pasirmu, aku juga sedang menatap dia. Kuingin kembali padanya dan aku perlu bantuanmu agar aku dapat mengubah diriku menjadi angin.”
“Apakah cinta itu?” tanya gurun.
“Cinta adalah terbangnya elang di atas pasirmu. Sebab baginya, kau adalah ladang hijau, tempat dia selalu kembali dari perburuannya. Dia kenal karang-karangmu, bukit-bukit pasirmu, dan gunung-gunungmu, dan kau murah hati terhadapnya.”
“Paruh burung itu membawa sedikit demi sedikit dariku, diriku,” kata gurun. “Bertahun-tahun, kupelihara mainannya, kuhidupi dengan sedikit air yang kupunya, dan kemudian kutunjukkan pada elang di mana mainannya itu. Dan, suatu hari, ketika aku menikmati kenyataan bahwa mainannya itu hidup di permukaanku, sang elang menukik dari langit, dan mengambil apa yang telah kuciptakan.”
“Tapi itulah sebabnya kau ciptakan buruan itu pertama kali,” jawab si bocah. “Untuk menghidupi elang. Dan elang kemudian menghidupi manusia. Dan, akhirnya, manusia akan menghidupi pasirmu, tempat buruan itu tumbuh sekali lagi. Begitulah jalannya dunia.”
“Jadi itukah cinta?”
“Ya, itulah cinta. Itulah yang membuat buruan menjadi elang, elang menjadi manusia, dan manusia, pada waktunya, menjadi gurun. Itulah yang mengubah timah menjadi emas, dan membuat emas kembali ke bumi.”
110

Hanya ada satu hal yang membuat mimpi tak mungkin diraih: perasaan takut gagal.”
108

“Mata manusia menunjukkan kekuatan jiwanya,”
104

“Bila kau memiliki harta yang sangat benilai di dalam dirimu, dan mencoba untuk memberitahu orang lain tentang hal itu, jarang ada yang percaya.”
101

masa tergelap di malam hari adalah saat menjelang fajar.
101

“Setiap pencarian dimulai dengan kemujuran pemula. Dan setiap pencarian berakhir dengan kemenangan yang telah melewati ujian yang berat.”
101

“Hatiku takut kalau ia harus menderita,” kata si bocah pada sang alkemis suatu malam saat mereka melihat langit yang tak berbulan.
“Katakan pada hatimu bahwa takut menderita itu lebih buruk daripada menderita itu sendiri. Dan bahwa tidak ada hati yang pernah menderita saat ia mengejar mimpi-mimpinya, karena setiap detik dari pencarian itu adalah detik perjumpaan dengan Tuhan dan dengan keabadian.”
99

Orang takut mengejar impian-impian mereka yang terpenting, sebab mereka merasa mereka tak berhak memperolehnya, atau bahwa mereka tak akan mampu meraihnya. Kami, hati mereka, menjadi gentar hanya dengan berpikir tentang orang-orang tercinta yang akan pergi selamanya, atau tentang saat-saat yang seharusnya baik tapi ternyata tidak, atau tentang harta-harta yang mungkin mestinya sudah ditemukan tapi selamanya terkubur dalam tanah. Karena, saat hal- hal ini terjadi, kami sangat menderita (hati kami).
99

Pengkhianatan adalah pukulan yang datang tanpa terduga. Bila kau memahami benar hatimu, ia tak akan pernah sanggup berbuat begitu terhadapmu. Sebab kau tahu mimpi-mimpinya dan harapan-harapannya, dan akan tahu cara menghadapi semua itu.
99

“Memang menakutkan bahwa, dalam mengejar impianmu, kau mungkin kehilangan semua yang telah kau dapatkan.”
98

“Karena di manapun hatimu berada, di situlah akan kau temukan hartamu.”
98

“Hanya ada satu cara untuk belajar,” jawab sang alkemis. “Melalui tindakan…”
95

“Bila apa yang didapat seseorang terbuat dari bahan yang murni, ia tak akan pernah rusak. Dan orang dapat selalu kembali. Bila apa yang telah kau peroleh hanya kilasan sinar, seperti ledakan bintang, kau tak akan menemukan apa-apa saat kau kembali.”
94

“Para lelaki lebih memimpikan pulang ke rumah daripada pergi,”
94

“JANGAN MEMIKIRKAN APA YANG KAU TINGGALKAN,”
94

“Aku ini perempuan gurun,” katanya, memalingkan wajah. “Tapi bagaimanapun, aku ini perempuan.”
93

“Kau hendaknya mengerti bahwa cinta tidak pernah menahan seorang lelaki untuk mencari Legenda Pribadinya. Bila dia mengabaikan pencarian itu, itu karena ia bukanlah cinta sejati…, cinta yang berbicara dengan Bahasa Buana.”
92

“Fatima itu perempuan gurun,” kata sang alkemis. “Dia tahu bahwa lelaki harus pergi agar kembali. Dan dia sudah mendapatkan hartanya: kamu. Kini dia berharap kamu akan menemukan apa yang sedang kau cari.”
90

“Yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk ke dalam mulut manusia,” kata sang alkemis. “Yang buruk adalah yang keluar dari mulut mereka.”
88

“Saat seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya,”
88

“Kamu tidak boleh berhenti, bahkan setelah apa yang terjadi sampai saat ini,” dia melanjutkan. “Kamu harus mencintai gurun, tapi jangan pernah mempercayainya sepenuhnya. Karena gurun menguji semua orang: ia menantang setiap langkah, dan membunuh mereka yang lengah.”
85

“Gurun memenuhi hati manusia dengan bayangan-bayangan,”
76

Saat kita jatuh cinta, banyak hal yang jadi lebih masuk akal, pikirnya.
76

Untuk melakukannya dengan sukses, aku tidak boleh merasa takut gagal. Perasaan takut gagal itulah yang dulu menahanku mencoba Karya Agung. Sekarang aku sedang memulai apa yang seharusnya kumulai sepuluh tahun lalu. Tapi setidaknya aku
bahagia karena tidak harus menunggu duapuluh tahun.”
75

“Gurun mengambil para lelaki kami dari kami, dan mereka tidak selalu kembali,” katanya. “Kami tahu itu, dan kami terbiasa dengannya. Mereka yang tidak kembali menjadi bagian dari awan, bagian dari hewan-hewan yang bersembunyi di jurang- jurang dan dari air yang keluar dari bumi. Mereka menjadi bagian semuanya.., mereka menjadi Jiwa Buana.
“Beberapa memang kembali. Dan kemudian perempuan- perempuan lainnya gembira karena mereka percaya suami-suami mereka pun akan kembali suatu hari nanti. Aku terbiasa melihat para perempuan itu dan iri pada kebahagiaan mereka. Sekarang, aku juga akan menjadi salah satu dari perempuan-perempuan yang menunggu.
“Aku ini perempuan gurun, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin suamiku berkelana sebebas angin yang membentuk bukit-bukit pasir. Dan, jika terpaksa, aku akan terima kenyataan bahwa dia telah menjadi bagian dari awan, dan hewan- hewan, dan air gurun.”
74

Bukit-bukit pasir berubah oleh angin, tapi gurun tak pernah berubah. Begitulah yang akan terjadi dengan cinta kita.
74

Itulah Bahasa Buana yang murni. Ia tidak membutuhkan penjelasan, sebagaimana alam semesta tak memerlukan apapun saat berjalan melewati waktu yang tiada akhir. Apa yang dirasakan si bocah pada saat itu adalah bahwa dia berada di hadapan satu-satunya perempuan dalam hidupnya, dan bahwa, tanpa perlu kata- kata, gadis itu rnerasakan hal yang sama. Dia lebih yakin pada hal itu daripada terhadap apapun di dunia ini. Dia pernah diberitahu oleh orangtua dan kakek- neneknya bahwa dia harus jatuh cinta dan benar-benar mengenal seseorang sebelum terikat Tapi mungkin orang-orang yang merasakannya tidak pernah memahami bahasa universal ini. Karena, jika kita memahami bahasa itu, mudahlah untuk mengerti bahwa seseorang di dunia menanti kita, entah di tengah gurun atau di kota besar. Dan saat dua orang itu berjumpa, dan mata mereka bertemu, masa lalu dan masa depan menjadi tak penting. Yang ada hanyalah momen itu, dan kepastian yang ajaib bahwa segala yang ada di langit dan di bumi telah dituliskan oleh tangan yang esa. Itulah tangan yang menimbulkan cinta, dan menciptakan suata jiwa kembar bagi setiap orang di dunia. Tanpa cinta seperti itu, impian- impian seseorang akan tak bermakna.
70

“Karena orang tidak hidup di masa lalu ataupun masa depan. Aku hanya tertarik pada masa kini. Bila kau dapat selalu konsentrasi pada masa kini, kau akan menjadi orang yang bahagia. Kau akan tahu ada kehidupan di gurun, bahwa ada bintang-bintang di langit, dan bahwa pertempuran suku ini karena mereka bagian dari ras manusia. Hidup akan menjadi pesta bagimu, suatu festival besar, karena kehidupan adalah momen kita hidup saat ini.”
64

“Setiap orang mempunyai caranya sendiri dalam mempelajari sesuatu,”
63

“Segala yang ada di dunia berubah tanpa henti, karena bumi ini hidup.., dan mempunyai jiwa. Kita adalah bagian dari jiwa itu, maka kita jarang menyadari bahwa ia bekerja untuk kita.
59

Bila kamu menginginkan sesuatu dengan segenap hatimu, itulah saat terdekatmu dengan Jiwa Buana. Ia selalu merupakan kekuatan yang positif.
59

“Dan, bila kau tak dapat kembali, yang harus kau pikirkan hanyalah jalan terbaik untuk bergerak ke depan. Selanjutnya terserah Allah, termasuk bahaya.”
58

“Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita ataupun barang- barang dan tanah kita. Tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama.”
58

Orang tidak perlu takut pada hal yang tak dikenal bila mereka sanggup meraih apa yang mereka butuhkan dan inginkan.
58

Si bocah juga punya buku, dan dia mencoba membacanya selama hari-hari pertama perjalanan. Tapi dia merasa lebih tertarik mengamati karavan itu dan mendengarkan angin. Segera setelah dia mengenal ontanya, dan menjalin hubungan dengannya, dia membuang bukunya. Meski si bocah telah mengembangkan suatu tahayul bahwa setiap dia membuka bukunya dia akan belajar sesuatu yang penting, dia memutuskan bahwa buku itu adalah sebuah beban yang tak perlu.
57

Dia memikirkan puteri pedagang kain itu dan yakin dia mungkin sudah menikah. Mungkin dengan seorang tukang roti, atau dengan gembala yang dapat membaca dan bisa menceritainya kisah-kisah yang memikat –bagaimanapun, dia bukanlah satu-satunya lelaki. Tapi dia merasa gembira akan pemahaman naluriahnya atas komentar penunggang onta itu: mungkin dia juga sedang belajar bahasa universal yang berhubungan dengan masa silam dan masa kini setiap orang. “Firasat,” begitu ibunya biasa menyebutnya. Si bocah mulai mengerti bahwa sebenarnya intuisi adalah penceburan mendadak suatu jiwa ke dalam arus kehidupan universal, tempat terhubungnya sejarah semua orang, dan kita bisa mengetahui semua hal, karena semuanya sudah tertulis di sana.
“Maktub”
56

Mahluk seperti domba, yang terbiasa berkelana, paham tentang langkah tanpa jeda.
56

“Tapi gurun ini begitu luas, dan kaki langit begitu jauh, sehingga membuat orang merasa kecil, dan seakan dia harus tetap diam.”
55

Ada berbagai macam orang, dan setiap orang mempunyai Tuhannya masing- masing.
54

Gurun pasir itu seperti perempuan yang tak terduga, dan kadang ia membikin lelaki gila.”
54

“Kalau bisa, aku ingin menulis ensiklopedi yang sangat besar hanya tentang kata keberuntungan dan kebetulan. Dengan kata-kata itulah bahasa universal ditulis.”
53

“Segala sesuatu di dunia adalah pertanda,”
53

Dia masih bimbang dengan keputusan yang diambilnya. Tapi dia sudah bisa memahami satu hal: membuat keputusan hanyalah permulaan. Bila seseorang membuat keputusan, sebenarnya dia menyelam ke dalam arus kuat yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dia impikan saat pertama kali membuat keputusan itu.
52

“Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantumu mencapainya,”
47

bahwa ada bahasa di dunia yang dimengerti setiap orang, bahasa yang digunakan si bocah sepanjang waktu saat dia mencoba mengembangkan hal-hal baru di toko kristal itu. Itulah bahasa gairah, menyangkut hal-hal yang dicapai dengan rasa cinta dan niat, dan sebagai bagian dari ikhtiar mencari sesuatu yang diyakini dan diinginkan.
47

“Jangan pernah berhenti bermimpi,”
47

Kadang-kadang, tidak ada cara untuk membendung sungai.
44

Sebab aku jadi tahu hal-hal yang mampu kulakukan, sementara aku tidak mau melakukannya.”
44

Aku tak mau mengubah apapun, karena aku tidak tahu bagaimana menghadapi perubahan. Aku sudah terbiasa dengan keadaanku sekarang ini.”
44

Aku pernah diberitahu bahwa kecantikan adalah penggoda terbesar bagi lelaki.”
43

“Kau harus selalu tahu apa yang kau inginkan,”
43

Tidak semua orang dapat melihat impiannya menjadi kenyataan dengan cara yang sama.
42

Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.
42

“Aku ini seperti semua orang lain –aku memandang dunia menurut apa yang ingin kulihat terjadi, bukan apa yang sesungguhnya terjadi.”
31

Kala aku punya domba, aku bahagia, dan aku membuat mereka yang ada di sekitarku bahagia. Orang-orang melihat aku datang dan menyambutku, renungnya. Tapi kini aku sedih dan sendiri. Aku akan menjadi seorang yang pahit dan tak percaya pada siapapun karena satu orang telah menghianatiku. Aku akan membenci orang-orang yang menemukan harta karun mereka karena aku tak pernah bisa menemukan milikku. Dan aku akan mempertahankan sesedikit apapun yang sudah kupunya, sebab aku terlalu remeh untuk menaklukkan dunia.
30

“Seorang pemilik toko mengirim puteranya untuk belajar tentang rahasia kebahagiaan dari pria yang paling bijaksana di dunia. Si bocah mengembara, menyeberangi gurun selama empat puluh hari, dan akhirnya sampailah dia kesatu istana yang indah, tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.
“Tanpa mencari orang bijak itu dulu, pahlawan kita langsung saja memasuki ruang utama istana itu, melihat macam-macam kegiatan: para pedagang datang dan pergi, orang-orang berbincang di sudut-sudut, orkestra kecil memainkan musik yang lembut, dan ada sebuah meja yang dipenuhi piring-piring makanan terlezat yang ada di belahan dunia tersebut. Si orang bijak bercakap-cakap dengan setiap orang, dan si anak harus menunggu selama dua jam sebelum akhirnya dia mendapat perhatian orang itu.
“Orang bijak itu mendengarkan dengan penuh perhatian keterangan si anak tentang alasan dia datang, tapi berkata bahwa dia tidak punya waktu untuk menerangkan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak itu untuk melihat-lihat istana dan kembali dalam dua jam.
“‘Sambil kamu melihat-lihat, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku,’ kata orang bijak itu, menyodorkan sendok teh berisi dua tetes minyak. ‘Sambil kamu keliling, bawalah sendok ini tanpa menumpahkan minyaknya.'”
“Anak tadi mulai naik turun tangga-tangga istana, dengan pandangan tetap ke arah sendok itu. Satelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat si orang bijak berada.
“‘Nah,’ tanya orang bijak itu, ‘apakah kamu melihat tapestri Persia yang tergantung di ruang makanku? Apakah kamu melihat taman yang ditata pakar pertamanan selama sepuluh tahun itu? Apakah kamu memperhatikan kertas kulit yang indah di perpustakaanku?'”
“Anak itu merasa malu, dan mengaku dia tidak memperhatikan apa-apa. Perhatiannya hanya tertuju pada minyak di sendok itu supaya tidak tumpah, seperti yang percayakan si orang bijak kepadanya.
“‘Kembalilah dan perhatikan duniaku yang mengagumkan ini,’ kata si orang bijak. ‘Kamu tidak dapat mempercayai orang kalau kamu tidak tahu rumahnya.’
“Dengan lega, anak itu mengambil sendok tadi dan kembali menjelajahi istana itu, kali ini dia memperhatikan semua karya seni di atap dan dinding-dinding. Dia melihat taman-taman, pergunungan di sekelilingnya, bunga-bunga yang indah, dan mengagumi selera di balik pemilihan segenap hal yang ada di sana. Sekembalinya dia ke orang bijak itu, dia mengungkapkan secara terinci semua yang dilihatnya.
“‘Tapi mana minyak yang kupercayakan padamu?’ tanya si orang bijak.
“Memandang ke sendok yang dipegangnya, anak itu melihat minyak tadi telah hilang.
“‘Baiklah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan padamu,’ kata manusia terbijak itu. ‘Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok.'”
24-25

Kadang-kadang, lebih baik membiarkan semua hal seperti adanya, pikirnya, dan memutuskan untuk tidak bicara apapun.
20

“Jika kau mulai dengan menjanjikan apa yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk bekerja guna mendapatkannya.
18

“Tapi tukang roti adalah orang yang lebih penting daripada gembala. Tukang roti punya rumah, sementara gembala tidur di ruang terbuka. Orang tua lebih suka anak mereka menikah dengan tukang roti daripada dengan gembala.
“Lama kelamaan, apa yang orang pikirkan tentang gembala dan tukang roti menjadi lebih penting bagi mereka daripada Legenda Pribadi mereka sendiri.”
18

“Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan. Setiap orang, saat mereka belia, tahu apa Legenda Pribadi mereka.
Pada titik kehidupan mereka itulah semuanya jelas dan segalanya mungkin terjadi. Mereka tidak takut untuk bermimpi, dan mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu, suatu daya misterius mulai meyakinkan mereka bahwa mustahillah bagi mereka untuk mewujudkan Legenda Pribadi mereka…
Itu adalah kekuatan yang tampaknya negatif, tapi benarnya menunjukkan kepadamu cara mewujudkan Legenda Pribadimu. Kekuatan ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu, karena ada satu kebenaran terbesar di planet ini: siapapun kamu, atau apapun yang kau lakukan, saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tadi bersumber di dalam jiwa alam semesta. Itulah misimu di dunia.
“Bahkan kalaupun yang kita inginkan sekadar berkelana? Atau menikah dengan puteri seorang pedagang kain?”
“Yes, atau bahkan mencari harta. Jiwa Buana dihidupi oleh kebahagiaan orang- orang. Dan juga oleh kekecewaan, rasa iri, dan kecemburuan. Mewujudkan Legenda Pribadi seseorang adalah satu-satunya kewajiban real orang itu. Semuanya adalah satu.
Dan, saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya.”
16-17

Orang memang suka omong aneh-aneh, pikir si bocah. Kadang lebih baik bersama kawanan domba, yang tidak bicara apa-apa. Dan lebih baik lagi sendirian dengan buku-buku. Mereka menuturkan kisah-kisah hebat di saat kita ingin mendengarkannya. Tapi kalau kita bicara dengan orang-orang, mereka mengocehkan hal-hal yang begitu aneh sampai kita tidak tahu bagaimana cara melanjutkan percakapan.
15

“Buku ini menyatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh hampir semua buku di dunia,” lanjut orang tua itu. “Ia menggambarkan ketidakmampuan orang untuk memilih Legenda Pribadi mereka sendiri. Dan berakhir dengan mengatakan bahwa setiap orang mempercayai dusta terbesar di dunia.”
“Apa dusta terbesar itu?” tanya si bocah, sungguh-sungguh terkejut.
“Begini: bahwa pada saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita lalu dikendalikan oleh nasib. Itulah dusta terbesar di dunia.”
14

Bila seseorang bertemu dengan orang yang sama setiap hari, seperti yang terjadi padanya di seminari, mereka berubah menjadi bagian dari kehidupan orang tadi. Kemudian mereka ingin orang itu berubah. Jika seseorang tidak seperti yang dikehendaki, yang lainnya marah. Setiap orang rupa-rupanya punya ide yang jelas tentang bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup mereka, tapi tak satu pun mengenai kehidupannya sendiri.
12

“Sudah kubilang mimpimu itu sulit. Hal-hal sederhana dalam hidup memang yang paling luar biasa; hanya orang-orang bijak yang dapat memahaminya.
11

Tapi dia putuskan untuk mengambil risiko. Seorang gembala selalu menempuh risiko dengan serigala dan kemarau, dan itulah yang membuat hidup gembala jadi menarik.
10

Kemungkinan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan membuat hidup menarik
9

Si bocah dapat melihat dari pandangan mata ayahnya hasrat untuk bisa, bagi dirinya sendiri, berkelana ke seluruh dunia — suatu hasrat yang masih menyala, meski ayahnya berusaha menguburnya, selama berpuluh tahun, di bawah beban perjuangan untuk mendapatkan air untuk minum, pangan untuk makan, dan tempat yang sama untuk tidur setiap malam sepanjang hidupnya.
7

“ORANG-ORANG DARI SELURUH DUNIA PERNAH MELEWATI desa ini, Nak,” kata ayahnya. “Mereka datang untuk mencari hal-hal baru, tapi begitu mereka pergi sebenarnya mereka sama saja dengan saat mereka datang. Mereka mendaki gunung untuk melihat kastil itu, dan mereka akhirnya menyimpulkan bahwa masa silam lebih baik daripada yang kita alami sekarang ini. Mereka berambut pirang, atau berkulit gelap, tapi pada dasarnya mereka sama seperti orang-orang yang tinggal di sini.”
“Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota-kota tempat tinggal mereka,” si bocah menjelaskan.
“Orang-orang itu, saat mereka melihat negeri kita, pun berkata ingin tinggal di sini selamanya,” lanjut ayahnya.
“Kalau begitu, aku ingin melihat negeri mereka dan melihat bagaimana kehidupan mereka,” kata anaknya.
“Orang-orang yang datang ke sini itu uangnya banyak, jadi mereka mampu berkelana,” kata ayahnya. “Di kalangan kita, yang berkelana hanya para gembala.”
“Kalau begitu, aku mau jadi gembala!”
Ayahnya tidak berkata apa-apa lagi. Esok harinya, dia memberi anaknya kantong bersi tiga koin emas Spanyol kuno.
7

Sejak kecil dia sudah ingin tahu tentang dunia, dan ini jauh lebih penting baginya daripada mengetahui Tuhan dan mempelajari dosa-dosa manusia.
6-7

Kita harus siap menghadapi perubahan, pikirnya
6

Tapi ketika dia ingin mengeluh tentang beratnya jaket tadi, dia ingat, karena dia punya jaketlah maka dia kuat menahan dinginnya pagi.
6

Mereka mempercayaiku, dan mereka sudah lupa bagaimana mengandalkan naluri mereka sendiri, karena aku menggiring mereka ke makanan.
6

Dan dia tahu bahwa para gembala, seperti pelaut dan seperti pedagang keliling, selalu menemukan sebuah kota di mana ada seorang yang mampu membuat mereka melupakan keasyikan mengembara sesuka hati.
5

Tapi dalam hati dia tahu itu adalah masalah.
5

Dia sadar dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia alami: hasrat untuk menetap di satu tempat buat selamanya
5

Si bocah menjawab dengan menggumam-gumam tak jelas supaya dia bisa mengelak untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Dia yakin si gadis tidak akan pernah mengerti.
5

“Yah…, biasanya aku lebih banyak belajar dari domba-dombaku daripada dari buku,”
4

Dia percaya domba-domba itu dapat mengerti apa yang diucapkannya. Jadi terkadang dia membacakan mereka bagian dari bukunya yang membuatnya terkesan, atau menceritakan kesepian dan kebahagiaan seorang gembala di ladang.
4

“Mereka sudah begitu terbiasa denganku hingga tahu jadwalku,” gumamnya. Memikir kan hal ini sejenak, dia sadar boleh jadi sebaliknya: dialah yang menjadi terbiasa dengan jadwal mereka.
3

PROLOG
ALKEMIS ITU MENGAMBIL BUKU YANG DIBAWA SESEORANG DALAM karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.
Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh kedalam danau itu dan tenggelam. Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus.
Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri ceritanya.
Dia menyatakan bahwa ketika Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah berubah menjadi danau airmata yang asin.
“Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.
“Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.
“Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat.”
“Tapi… indahkah Narcissus?” tanya danau.
“Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran. “Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!”
Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:
“Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.”

“Kisah yang sungguh memikat,” pikir sang alkemis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s