20130927 utuh

Beberapa waktu ke belakang ini, aku sedang mencoba memahami diriku. Dan aku temukan, bahwa diriku seperti memiliki kepribadian yang banyak. Bayangkan kalau saja aku termasuk orang sakit, mungkin sudah berada di rumah sakit yang katanya untuk jiwa.
Kadang-kadang aku menjadi seorang yang riang, seakan-akan semua masalah pasti teratasi. Kadang pula aku menjadi seorang yang khawatir, bahwa masalah demi masalah belum selesai.
Kadang-kadang aku memilih diam tak berbicara mengenai kesedihan, tetapi kadang pula aku menceritakan semua kesedihanku.
Kadang aku memilih seperti air mengalir, kadang aku memilih melawan arus. Kadang dan kadang lagi yang lainnya.
Apakah ini mengartikan sebuah kepribadian yang ganda? Kurasa tidak. Karena aku masih berada di sini bukan di rumah sakit yang katanya untuk jiwa.
Tapi bukan itu masalahnya.
Setiap kali aku menceritakan diriku kepada seseorang, aku akan membelah diriku. Seperti ini:
Aku akan menceritakan diriku, seakan-akan diriku adalah orang lain. Ketika aku membuat kesalahan, aku akan menceritakan bahwa diriku yang itu sedang ingin melakukan kesalahan. Dia ingin nakal dan tak ingin dikendalikan. Kemudian, aku akan menceritakan pula apabila diriku mendapatkan suatu kebahagiaan, bahwa diriku yang itu adalah diriku yang positif. Diriku yang itu mampu mengendalikan kegelisahannya, mampu mengalahkan ketakutannya, dan berbagai kekhawatiran yang dihadapi.
Dua diriku sudah terbagi. Dan sekarang menjadi tiga, yaitu; diriku yang sedang bercerita. Diriku yang bercerita seolah-olah menjadi seorang wartawan yang menulis dan merangkum diriku yang negatif dan diriku yang positif.

Begitulah. Cara berpikir seperti itulah sering kuhadapi beberapa waktu ini. Bahkan parahnya lagi, aku seperti tak lagi memiliki diriku.

Jadi siapakah aku?

Kini, aku memiliki jawabannya.
Aku adalah semua itu. Aku yang melakukan kesalahan dan kuakui, aku yang positif dan kuakui, aku yang menulis, dan kuakui.

Aku bukanlah sebagian dari yang kutulis. Aku adalah keseluruhan. Baik buruknya itu adalah diriku. Akulah yang sedang berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Akulah pula yang jatuh berkali-kali itu. Aku menerima itu, karena akulah yang hidup itu.

Akulah yang pernah mengkritik itu, aku pula yang menasehati itu. Aku si bajingan itu yang selalu mengandalkan Tuhan apabila terpuruk dan sering melupakanNya ketika senang. Akulah itu.
Aku yang melewati jalan berkelok-kelok itu, sedang jalan yang lurus itu pun ada.
Akulah penjahat itu yang selalu ingin menjadi baik.
Akulah yang sering mengikuti hawa nafsuku untuk diperhatikan dan tenang setelah mendapatkan dan marah ketika kehilangan. Akulah itu.

Kini, setelah mengatakan ini, aku telah menjadi pribadi yang utuh. Inilah aku. Siapa kamu?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s