Di Pinggir Jalan Desa Berlumpur

Wanita itu berbicara kepada pria yang tak lagi mendengarkannya.
Pria itu asyik dengan mainan barunya
(Kata-kata seakan-akan mampu meloloskan diri dari wanita itu
Pria dihadapannya memenjarakan kata-kata)

Dulu mereka bertemu mengamati surat-surat
Di bawah anak tangga rumah pohon itu
Kertas demi kertas berbicara kepada entah siapa melalui bibir wanita itu
Pria itu selain mengamati, ia mendengar surat-surat yang kini mampu bicara

“Cinta hanya rangkaian kata sementara benci membelakangi…”

Mereka saling menatap setelah kalimat itu berulang-kali diucap,
Dan ada yang lahir dari pandangan itu; segala makna memenuhi akal masing-masing
Yang menyembul di kepala mereka hanya berupa uap
Hasil pemikiran tak terselamatkan

“Aku ingin bertemu denganmu, Marquez, Tanggalkan mainan itu.
Kata-kata menguap tak apa
Tetapi aku kian memudar.”

Pria itu hanya sebentar menolehkan wajahnya yang kini kehilangan mata
Wanita itu meminjamkan air matanya.dan berjanji tak akan menagihnya.

Amby 201309

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s