Menjadi Diri Sendiri (Aion, Researches into the Phenomonology of the Self / Aion, Beitrage zur Symbolik des Selbst)- Carl Gustav Jung

Ego adalah bagian dari kepribadian dan bukan seluruh kepribadian
97

Secara teoritis bidang kesadaran tidak dapat dibatasi, sebab ia sanggup meluas tanpa batas. Namun bagaimanapun juga secara empiris, kesadaran selalu menemukan batasnya jika berhadapan dengan yang tidak diketahui. Yang tidak diketahui ini terdiri dari apa saja yang tidak kita ketahui, yang oleh karenanya tidak dihubungkan dengan ego sebagai pusat bidang kesadaran.
Yang tidak diketahui terbagi dalam dua kelompok obyek yakni:
– yang berada di luar dan dapat dialami dengan panca indra, dan
– yang berada di dalam dan dialami secara langsung.
Yang berada di luar mencakup ketidaktahuan dalam dunia luar dan yang berada di dalam mencakup ketidaktahuan dalam dunia batin. Daerah terakhir ini kita sebut yang ‘tak sadar’.
93

Ego adalah subyek dari segala kegiatan pribadi kesadaran.
93

Inti dari teori Jung tentang lambang dapat kita ringkas dalam kutipan berikut: “Lambang bukan sebuah tanda yang menyelubungi sesuatu yang sudah dikenal setiap orang. Bukan itu yang terpenting: sebaliknya lambang mewakili satu usaha untuk menjelaskan secara analogis sesuatu yang seluruhnya masih berada dalam keadaan yang tak dikenal atau sesuatu yang masih harus terjadi” (Types, hlm. 642). Menurut Jung, Freud tidak mengenal lambang dalam arti sebenarnya, tetapi Freud hanya mengenal tanda yang mempunyai asal yang kuasal dan yang menunjuk (sebagai ingatan penyamar = Deckerinnerung) kepada masa lampau infantil yang traumatis yang dulu sebenarnya sudah diketahui tetapi sekarang dijadikan tak sadar lewat proses regresi. Lambang yang sebenarnya menunjuk kepada sesuatu yang belum pernah atau belum dikenal, dan yang untuk sementara tidak dapat diungkapkan kecuali lewat lambang. Yang dititikberatkan Jung ialah bahwa lambang sudah mengandung arah masa depan, bahwa lambang menunjuk kepada proses-proses yang masih tersembunyi dan yang ingin menjadi nampak dan terwujud. Lambang-lambang adalah tendensi yang mengarah kepada tujuan tertentu yang belum dikenal. Lambang yang merupakan kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi dari alam tak sadar itu. Dengan mengembangkan maksud tersembunyi dari lambang itu, tendensi masa depan dapat diwujudkan dalam kehidupan manusia.
Lambang adalah gestalt yang sangat kompleks sebab lambang tersusun dari banyak fungsi dan bagian psikis yang berbeda untuk menggabungkan semuanya ini dalam sebuah sintesis. Sebab itu lambang adalah sebuah “gestalt yang hidup. Itu berarti membentuk satu kesatuan kongkret dari yang real dan ireal, dari yang nyata dan yang semu, dari ide dan perasaan serta dari roh dan materi. Kesatuan dari lambang ini tidak dapat diciptakan oleh kesadaran sebab kesadaran pada hakikatnya bersifat memisah, membeda-bedakan dan memilih sesuatu yang terbatas. Kesatuan lambang berasal dari alam yang tak sadar itu semua fungsi psikis masih berada dalam keadaan bersatu yang belum dibeda-bedakan. Maka lambang mengungkapkan satu gambar tak sadar tentang seluruh manusia dan mewujudkan secara simbolis kesatuan utuh dari manusia.
56-57

Kesadaran dan alam tak sadar merupakan dua dimensi psikis yang sungguh sangat berbeda menurut struktur masing-masing: kesadaran kita berpusat dalam ego individual yang unik, sedangkan alam tak sadar mewakili seluruh lapisan psikis yang bersifat kolektif dan universal. Dalam pengalaman klinis, menjadi jelas bahwa keseimbangan antara yang sadar dan yang tak sadar sering diganggu. Tetapi jelas juga bahwa gambaran ini dapat menggerakkan tendensi ke arah munculnya keseimbangan psikis yang baru. Maka masalahnya di sini ialah bagaimana terdapat hubungan yang tepat antara yang sadar dan yang tak sadar. Hubungan antara dua dimensi ini justru terjadi dalam titik pusat yang sama yang menggabungkan alam sadar dan alam tak sadar. Titik pusat ini dilambangkan dalam arketipe ‘self’.
Harus terdapat sesuatu yang lebih besar dan lebih luas daripada ego. Sesuatu itulah yang harus merangkum ego ini dan yang sebenarnya mengungkapkan totalitas kepribadian manusia. Dan itulah justru ‘self’. Self adalah satu unsur yang melampaui ego yang sadar. Ia bukan hanya meliputi psike yang tak sadar, dan karena itu boleh dikatakan: ada satu kepribadian yang juga ada pada kita (Jung, Two Essays on Analitycal Psycology, Coll. Works, vol. 7, hlm. 175). Dengan menggunakan metafor ruang, kita dapat katakan bahwa self terletak di antara wilayah kesadaran dan wilayah alam tak sadar dan sekaligus melingkupi keduanya: “self bukan saja titik pusat tetapi juga seluruh wilayah lingkaran (circumference) yang merangkum kesadaran dan alam tak sadar. Self adalah pusat dari totalitas psikis seperti ego adalah pusat dari kesadaran” (Psychologie und Alchemie, hlm. 69)
40-41, 42-43

Proses individuasi adalah jalan yang ditempuh dalam perkembangan psikis menuju self. Perjalanan ini merupakan proses perkembangan yang spontan dan sekaligus usaha penemuan yang penuh simbolisme dan petualangan. Namun jalan ini bukan satu garis lurus yang dapat ditempuh secara langsung dan terus-menerus maju ke arah tujuan yang jelas dan telah ditentukan. Jalan itu lebih mirip sebuah jalan yang berputar keliling dalam bentuk spiral. Di jalan itulah motif-motif dan masalah-masalah yang sama selalu diulang tetapi pada tingkat yang lebih tinggi. Jalan individuasi berbentuk spiral sebab proses introversi itu merupakan satu gerakan yang makin lama makin berputar lebih ke dalam dan makin dekat keliling arketipe self yang merupakan inti/pusat kepribadian. Di sanalah segala aspek psikis dipersatukan. Perjalanan ke pusat psikis ini merupakan perjalanan labirintis = jalan simpang dan panjang dari nasib setiap orang yang unik. Individuasi adalah perjalanan penyadaran berliku-liku yang menyatukan pertentangan-pertentangan.
36-37

Jung menulis: “Tujuan individuasi tidak lain daripada membebaskan arketipe self dari bungkus-bungkus palsu persona (topeng psikis sebagai adaptasi/penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan sosial) dan dari kekuasaan alam tak sadar arketipis yang merajalela.”
36

Proses individuasi dapat kita tanggapi atas dua arti: yang pertama sebagai proses atau sebagai satu proses organisme biologis manusia yang bersifat alamiah, spontan, dan tak sadar. Dan kedua, sebagai satu tugas etis manusia yang berkesadaran diri, tugas yang menuntut usaha keras untuk mencapai keutuhan pribadi. Pada kebanyakan orang, dorongan untuk menjadi matang dan mewujudkan diri biasanya dialami sebagai proses spontan, otomatis, alamiah, dan tak sadar. Proses psikis ini berjalan serentak dengan proses pertumbuhan biologis: lahir, menjadi dewasa, dan menjadi tua. Kebanyakan manusia melewati jalan kehidupan yang berliku-liku (labirintis) ini secara tak sadar. Jalan kehidupan itu membentang antara kelahiran dan kematian. Terdiri dari berhasil mencapai tujuan, mengalami krisis, dan jatuh melepaskan harapan tertentu. Selanjutnya selalu mulai dan terus maju, meskipun penuh dengan halangan, penyelewengan, dan distorsi (pemutarbalikan).
Namun selain proses individuasi yang spontan tadi, terdapat juga proses individuasi yang dialami secara sadar dan dengan sengaja dipercepat. Proses individuasi ini adalah proses buatan/artifisial yang berkembang maju karena praktek terapeutis mengikuti metoda-metoda tertentu. Dengan metoda terapeutis, proses individuasi dipercepat, diintensifkan, disadari, dan diasimilir ke dalam psike sehingga dapat tercapai satu keutuhan psikis. Dalam individuasi buatan ini, manusia tidak lagi merupakan obyek karena hanya mengikuti proses pertumbuhan alamiah/biologis, melainkan sebagai obyek ia ikut serta secara aktif menentukan proses menjadi diri sendiri. Jung menamakan hal itu: Opus Contra Naturam (OCN). Opus Contra Naturam adalah jalan sulit dalam rangka penyadaran diri yang metodis. Di dalam pengaturan diri ini manusia mempersatukan tesis alam tak sadar dan antitesis, ego yang sadar, ke dalam sintesis alam tak sadar yang disadari. Jung adalah perintis pertama yang mulai menyelidiki secara ilmiah Opus Contra Naturam itu.
31

Terdapat pula salah paham kedua tentang individuasi. Individuasi dianggap sebagai kesempurnaan moral dan religius yang bulat. Kesempurnaan itu seolah-olah tanpa noda, tanpa kesalahan, dan tanpa kekurangan. Namun harus diketahui bahwa tujuan individuasi bukanlah kesempurnaan moral dan religius melainkan keutuhan psikis. Dan dalam keutuhan psikis ini kenyataan kongkret dari aspek-aspek negatif, yang jahat, yang salah (shadow) tidak boleh ditiadakan tetapi harus diakui dan diterima dalam psike sebagai hal yang negatif di dalam diri seseorang. Bila tidak ada hal yang tidak sempurna, maka keutuhan psikis pun tidak mungkin dapat timbul/berkembang. Hal ini dapat dibandingkan dengan: cahaya/terang tidak mungkin ada tanpa naungan/titik gelap. Tanpa titik gelap, kehidupan kita nampaknya rata, kurang menarik, kurang lengkap. Dan tanpa titik gelap, tanpa realitas negatif ini, maka keseimbangan psikis, kebahagiaan batin, kebijaksanaan dan toleransi tidak mungkin timbul. Keutuhan pribadi hanya mungkin sejauh individu dapat menerima keadaan hidup yang paradoksal dan ambigu, penuh dengan pertentangan-pertentangan batin yang harus ditahan di dalam pribadi seseorang. Dengannya, berdasarkan pusat batiniah yang dimiliki, individu itu dapat menciptakan keseimbangan tanpa menghilangkan salah satu unsur psikis. Manusia seolah-olah tergantung pada salib pertentangan-pertentangan dan paradoks-paradoks. Dalam proses individuasi manusia baru dapat mencapai keutuhannya jika berhasil dalam pergumulan dengan pertentangan-pertentangan psikis sampai berhasil memadukan dan menyeimbangkan pertentangan-pertentangan itu. Maka tujuan dari proses individuasi bukan kesempurnaan religius dan moral melainkan keutuhan psikis yang terintegrasi. Orang yang dengan keras dan nekat mengejar kesempurnaan ideal tanpa noda itu, sering menghabiskan kesempatan untuk mewujudkan keutuhan psikis. Sebab yang dianggap tidak sempurna ditekan dalam diri sendiri menjadi tak sadar dan disimpan dalam ketaksadaran. Orang itu tertutup terhadap kemungkinan untuk menerima kekurangan itu ke dalam terang kesadaran dan tidak berupaya untuk mengakui shadow yakni hal yang tertekan itu.
30-31

Beberapa orang berpendapat bahwa proses individuasi hanya akan mengakibatkan individualisme yang asosial, egosentrisme dan ingat diri, keras kepala, dan tidak peduli akan orang lain. Tetapi bila berbicara tentang individuasi, Jung justru memaksudkan yang sebaliknya. Yaitu: dalam proses individualisme yang egoistis dan asosial itu justru merupakan pemusatan ego kepada diri sendiri secara berlebih-lebihan. Sebab ego yang merupakan pusat kesadaran terlalu dimutlakkan sehingga keseluruhan kepribadian yang juga harus meliputi alam yang tak sadar, diabaikan. Perkembangan self yang utuh sebenarnya tidak bersifat eksklusif = melawan sifat sosialitas. Sebab perkembangan diri ini sebenarnya merupakan perpaduan etis antara yang paling individual atau pribadiah dan yang paling kolektif (= alam tak sadar kolektif). Dalam arketipe Self/Diri, individualitas dan sosialitas tidak merupakan pasangan kawan (serasi). Tendens perpaduan ini adalah tendens yang paling hakiki di dalam psike. Sebab seperti kita ketahui bahwa tendens yang paling dalam dari psike bukannya untuk memisahkan kutub-kutub yang saling bertentangan melainkan untuk mempersatukan isi-isi yang saling bertentangan melalui lambang-lambang yang oleh Jung dinamakan: Lambang pemersatu (vereniegende simbol/unified). Dengan uraian tadi jelaslah bahwa individuasi merupakan perwujudan intersubyektivitas dalam persekutuan manusia dan rasa bersatu dengan kosmos. Kebersamaan/solidaritas dalam masyarakat hanya dapat mekar kalau setiap individu setia pada keaslian dirinya dan tidak melengkapkan diri dalam identifikasi dengan orang lain sehingga orang itu hanya menjadi jiplakan/tiruan dari orang lain. Individuasi merupakan perwujudan setiap individu secara unik. Di satu pihak individu berhasil menyesuaikan diri dengan yang universal di dalam dirinya (khusus alam tak sadar yang kolektif dengan arketipe-arketipenya). Di lain pihak individu menjaga kebebasan sebesar mungkin untuk mengambil keputusan-keputusannya sendiri. Jung selalu menitikberatkan kepentingan etis dari kehidupan setiap individu yang unik, yang harus berjuang untuk mengatasi bahaya menjadi manusia massa yang anonim (dan itu merupakan sosialitas semu/palsu). Dan individu mengatasi bahaya kehilangan “aku/ego” dalam inflasi psikis kalau ego itu diserang oleh isi arketipis yang tak sadar (dan itu merupakan asimilasi palsu dari isi yang tak sadar). Dengan pengertian akan proses individuasi, Jung mau meletakkan dasar bagi sifat sosial dan solidaritas yang sesungguhnya, yang berakar secara mendalam pada lapisan-lapisan psikis. Sebab itu individuasi mengandung implikasi sosio-politis yang sangat penting.
29-30

Proses menjadi diri sendiri itu selalu disertai rasa sakit dan beban psikis sebab pada permulaan proses itu, orang merasa sepi, sunyi, dan terpisah dari orang lain. Hasil pertama dari perkembangan kepribadian ialah bahwa individu itu menyadari diri sebagai pribadi yang khas, yang lain, yang orisinal. Dan itu berarti bahwa individu itu harus melepaskan diri dari massa yang anonim dan tak sadar. Individuasi berarti berani menerima kesunyian. Dan memang tidak ada penyesuaian — betapa pun penyesuaian itu baik dan kuat, dengan lingkungan sosial, dan keluarga, dengan masyarakat, dan dengan status sosial tertentu yang dapat menghindari kesunyian individu. Itulah rasa sunyi seorang yang matang dan kreatif. Orang tidak lagi ditentukan oleh sifat konformistis terhadap ketentuan-ketentuan kolektif. Ia juga tidak lagi merupakan satu bagian kecil saja dari massa anonim. Kesunyian itu merupakan sisi belakang yang mutlak harus ada. Kesunyian itu juga merupakan tugas etis untuk setia pada irama batin dan jalan nasib yang unik. Setiap orang harus secara positif menerima irama batin dan jalan nasibnya. Dengan demikian orang itu akan memperoleh keseluruhan pribadi.
28-29

Pada permulaan manusia belum memiliki dirinya yang sudah terwujud. Tetapi perlahan-lahan dirinya itu harus diwujudkan dalam kehidupannya yang unik.
28

Individuasi adalah jalan unik yang harus ditempuh oleh setiap orang agar dapatlah ia mewujudkan/memperkembangkan kepribadiannya yang asli. Dengan proses individuasi, pertanyaan, “siapa saya” atau lebih tepat, “siapa saya selain dari ego yang sadar”. (Hal ini berarti: selain dari apa yang sudah saya ketahui tentang diri saya sendiri, terlaksana juga ucapan ini: ‘jadilah dirimu sendiri dengan seluruh adamu yang sebenarnya’ = You have to become your own trully self (Rogers)/werde, wer du eigentlich schon bist). Keinginan menjadi utuh hanya dapat diwujudkan dalam suatu kehidupan yang yang unik dan pribadiah.
27-28

Aristoteles, seorang filsuf Yunani, telah memakai kata entelecheia (en = di dalam diri sendiri, telos = tujuan, echein = memiliki; mempunyai). Di dalam diri sendiri terdapat sesuatu yang harus dicapai.
26

“Tanpa mengalami pertentangan-pertentangan, mustahil dapat dialami totalitas/keseluruhan psikis. Dengan demikian mustahil pula memperoleh jalan masuk ke dalam dunia sakral, dunia Ilahi” (C. G. Jung, Psychologie und Alchemie, hlm. 34-35)
25

Fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).
5

“Interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional.”
5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s